Selasa, 28 Maret 2017

ETIKA

ETIKA

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu:

·         Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).

·           Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.

Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang pembahasan Etika, sebagai berikut:

·         Termin ius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.

·         Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in


human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara lain:

1.      Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)

2.      Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions)

3.      Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai

individual. (The science of human character in its ideal state,  and moral
principles as of an individual)
4.  Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)


Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :

-  Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.

-    Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

-     Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.




Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kitauntuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

TEORI ETIKA

1.Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

2.Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).
Paham utilitarianisme dapat diringkas sebagai berikut :

  • Tindakan harus dinilai benar atau salah hanya dari konsekuensinya (akibat, tujuan atau hasilnya).
  • Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan.
  • Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
3.Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.

4.Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak dan kewajiban bagaikan dua sisi dari uang logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberi tekanan terbesar pada kewajiban, tapi sekarang kita mengalami keadaan sebaliknya, karena sekarang segi hak paling banyak ditonjolkan. Biarpun teori hak ini sebetulnya berakar dalam deontologi, namun sekarang ia mendapat suatu identitas tersendiri dan karena itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu teori hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Teori hak sekarang begitu populer, karena dinilai cocok dengan penghargaan terhadap individu yang memiliki harkat tersendiri. Karena itu manusia individual siapapun tidak pernah boleh dikorbankan demi tercapainya suatu tujuan yang lain.
Menurut perumusan termasyur dari Immanuel Kant : yang sudah kita kenal sebagai orang yang meletakkan dasar filosofis untuk deontologi, manusia merupakan suatu tujuan pada dirinya (an end in itself). Karena itu manusia selalu harus dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu tujuan lain.

5.Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Dalam teori-teori yang dibahas sebelumnya, baik buruknya perilaku manusia dipastikan berdasarkan suatu prinsip atau norma. Dalam konteks utilitarisme, suatu perbuatan adalah baik, jika membawa kesenangan sebesar-besarnya bagi jumlah orang terbanyak. Dalam rangka deontologi, suatu perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan prinsip “jangan mencuri”, misalnya. Menurut teori hak, perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan hak manusia. Teori-teori ini semua didasarkan atas prinsip (rule-based).
Disamping teori-teori ini, mungkin lagi suatu pendekatan lain yang tidak menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan pada seluruh manusia sebagai pelaku moral. Teori tipe terakhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau akhlak seseorang. Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma. Namun demikian, dalam sejarah etika teori keutamaan tidak merupakan sesuatu yang baru. Sebaliknya, teori ini mempunyai suatu tradisi lama yang sudah dimulai pada waktu filsafat Yunani kuno.
Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Kebijaksanaan, misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous life).
Menurut pemikir Yunani (Aristoteles), hidup etis hanya mungkin dalam polis. Manusia adalah “makhluk politik”, dalam arti tidak bisa dilepaskan dari polis atau komunitasnya. Dalam etika bisnis, teori keutamaan belum banyak dimanfaatkan. Solomon membedakan keutamaan untuk pelaku bisnis individual dan keutamaan pada taraf perusahaan. Di samping itu ia berbicara lagi tentang keadilan sebagai keutamaan paling mendasar di bidang bisnis. Diantara keutamaan yang harus menandai pebisnis perorangan bisa disebut : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan. Keempat keutamaan ini berkaitan erat satu sama lain dan kadang-kadang malah ada tumpang tindih di antaranya. Kejujuran secara umum diakui sebagai keutamaan pertama dan paling penting yang harus dimiliki pelaku bisnis. Kejujuran menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran. Jika mitra bisnis ingin bertanya, pebisnis yang jujur selalu bersedia memberi keterangan. Tetapi suasana keterbukaan itu tidak berarti si pebisnis harus membuka segala kartunya. Sambil berbisnis, sering kita terlibat dalam negosiasi kadang-kadang malah negosiasi yang cukup keras dan posisi sesungguhnya atau titik tolak kita tidak perlu ditelanjangi bagi mitra bisnis. Garis perbatasan antara kejujuran dan ketidakjujuran tidak selalu bisa ditarik dengan tajam.
Ketiga keutamaan lain bisa dibicarakan dengan lebih singkat. Keutamaan kedua adalah fairness. Fairness adalah kesediaan untuk memberikan apa yang wajar kepada semua orang dan dengan “wajar” dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu transaksi. Insider trading adalah contoh mengenai cara berbisnis yang tidak fair. Dengan insider trading dimaksudkan menjual atau membeli saham berdasarkan informasi “dari dalam” yang tidak tersedia bagi umum. Bursa efek sebagai institusi justru mengandaikan semua orang yang bergiat disini mempunyai pengetahuan yang sama tentang keadaan perusahaan yang mereka jualbelikan sahamnya. Orang yang bergerak atas dasar informasi dari sumber tidak umum (jadi rahasia) tidak berlaku fair.
Kepercayaan (trust) juga merupakan keutamaan yang penting dalan konteks bisnis. Kepercayaan harus ditempatkan dalam relasi timbal balik. Ada beberapa cara untuk mengamankan kepercayaan. Salah satu cara adalah memberi garansi atau jaminan. Cara-cara itu bisa menunjang kepercayaan antara pebisnis, tetapi hal itu hanya ada gunanya bila akhirnya kepercayaan melekat pada si pebisnis itu sendiri.

6.Teori Etika Teonom
Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten, yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaimana dituangkan dalam kitab suci.
Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.
 ETIKA ABAD KE-20
  • Arti Kata “Baik” Menurut George Edward Moore
  • Tatanan Nilai Max Scheller
  • Etika Situasi Joseph Fletcher
  • Pangdangan Penuh Kasih Iris Murdoch
  • Pengelolaan Kelakuan Byrrhus Frederic Skinner
  • Prinsip Tanggung Jawab Hans Jonas
  • Kegagalan Etika Pencerahan Alasdair Maclntyre

 TEORI ETIKA DAN PARADIGMA HAKIKAT MANUSIA
  1. Tampaknya sampai saat ini telah muncul beragam paham atau teori etika, dimana masing-masing teori mempunyai pendukung dan penentang yang cukup berpengaruh.
  2. Munculnya beragam teori etika karena adanya perbedaan paradigma, pola pikir atau pemahaman tentang hakikat hidup sebagai manusia.
  3. Hampir semua teori etika yang ada didasarkan atas paradigma tidak utuh tentang hakikat manusia.
  4. Semua teori yang seolah-olah saling bertentangan tersebut sebenarnya tidaklah bertentangan.
  5. Teori-teori yang tampak bagikan potongan-potongan terpisah ini dapat dipadukan menjadi satu teori tunggal berdasarkan paradigm hakikat manusia secara utuh.
  6. Inti dari etika manusia utuh adalah keseimbangan pada :

  • Kepentingan pribadi, kepentingan masyarakat dan kepentingan Tuhan.
  • Keseimbangan moral materi (PQ dan IQ), modal sosial (EQ) dan modal spiritual (SQ).
  • Kebahagiaan lahir (duniawi), kesejahteraan masyarakat dan kebahgiaan batin surgawi.
  • Keseimbangan antara hak (individu) dengan kewajiban kepada masyarakat dan Tuhan.

TANTANGAN KE DEPAN ETIKA SEBAGAI ILMU
Ilmu etika ke depan hendaknya didasarkan atas paradigma manusia utuh, yaitu suatu pola pikir yang mengutamakan integrasi dan keseimbangan pada :
  • Pertumbuhan PQ, IQ, EQ dan SQ.
  • Kepentingan individu, kepentingan masyarakat dan kepentingan Tuhan.
  • Keseimbangan tujuan lahiriah (duniawi) dengan tujuan rohaniah (spiritual).

Hakikat utuh manusia adalah keseimbangan yang bisa diringkas sebagai berikut :
  • Keseimbangan antara hak (teori hak) dan kewajiban (teori deontologi).
  • Keseimbangan tujuan duniawi (teori teologi) dan rohani (teori teonom).
  • Kesiembangan antara kepentingan individu (teori egoisme) dan kepentingan masyarakat (teori utilitarianisme).
  • Gabungan ketiga butir di atas akan menentukan karakter seseorang (teori keutamaan).
  • Hidup adalah suatu proses evolusi kesadaran.

JURNAL

ETIKA BISNIS SEBAGAI STRATEGI BISNIS JANGKA PANJANG DALAM ERA BISNIS GLOBAL DAN REVOLUSI TEKNOLOGI INFORMASI

(Tinjauan Teori dan Aplikasi)


Oleh:

Gugyh Susandy & Deden Ramdhan

(Dosen Tetap STIESA)



Abstrak

Menjadi perusahaan yang menjalankan bisnis secara berkelanjutan merupakan harapan perusahaan dewasa ini mengingat tidak sedikit perusahaan yang harus mengakhiri bisnisnya akibat kesalahan strategi. Dengan adanya gabungan komponen struktur industri dan struktur pasar inilah telah membentuk struktur persaingan. Dalam dinamika bisnis maka tidak dapat dihindari akan muncul persaingan. Pada akhirnya persaingan tersebut yang mendorong peranan Etika dalam bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas lebih jauh dari sudut pandang teori dan aplikasi mengenai Etika Bisnis sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang dalam Era Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi.










Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
35

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

1.      Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Bisnis pada dasarnya adalah mengelola sesuatu agar terus berjalan dengan baik. Wilayah kerja bisnis adalah dalam lingkup masyarakat ekonomi. Bisnis sebagai bagian dari entitas ekonomi memiliki fokus peranan dalam kegiatan produksi dan menciptakan penawaran kepada pasar dimana masyarakat melakukan kegiatan konsumsi. Bisnis adalah suatu aktivitas yang dimulai dari memotret kebutuhan masyarakat (society), memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara-cara tertentu agar mendapatkan keuntungan dari transaksi pemenuhan kebutuhan. Dengan demikian, perusahaan bisnis merupakan entitas ekonomi utama yang digunakan orang dalam masyarakat ekonomi modern untuk melaksanakan tugas memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa.

Dalam bisnis diperlukan manajemen. Dengan manajemen yang baik maka bisnis dapat berjalan sesuai harapan. Manajemen memiliki peranan yang sentral dalam menunjang berjalannya roda bisnis secara efektif dan efisien. Manajemen juga berperan dalam proses pengambilan keputusan yang agar lebih akurat, cepat dan tepat. Manajemen pada dasarnya adalah ilmu yang membahas pemanfaatan sumber daya dengan cara yang terbaik dalam mencapai tujuan/sasaran. Manajemen juga diartikan sebagai ilmu serta seni bekerja bersama atau melalui orang lain untuk mencapai tujuan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki organisasi secara optimal (efektif dan efisien).



36       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Dengan demikian, ilmu Manajemen adalah ilmu yang memiliki peranan sentral yaitu bagaimana prinsip dan asas ekonomi dapat diterapkan atau dibumikan dalam suatu entitas ekonomi termasuk didalamnya perusahaan bisnis.

Ilmu ekonomi pada dasarnya memiliki tujuan untuk menciptakan equilibrium (keseimbangan) antara kegiatan produksi dan kegiatan konsumsi. Kegiatan produksi dalam entitas organisasi bisnis akan menghasilkan suatu struktur industri, demikian halnya juga kegiatan konsumsi akan menghasilkan struktur pasar. Dengan adanya gabungan komponen struktur industri dan struktur pasar inilah yang membentuk struktur persaingan. Dengan demikian dalam dinamika bisnis maka tidak dapat dihindari akan muncul persaingan. Pada akhirnya persaingan tersebut yang mendorong peranan Etika dalam bisnis.

Etika sebagai suatu ilmu adalah ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Ilmu Etika juga mempelajari bagaimana standar moral

tersebut diaplikasikan dalam kehidupan dengan menggunakan penalaran yang logis. Sedangkan Etika bisnis itu sendiri merupakan aplikasi pemahaman tentang standar moral tentang baik dan benar yang diterapkan oleh perusahaan bisnis. Ketika perusahaan bisnis telah menetapkan tujuan bisnisnya sebagai tujuan jangka panjang maka perusahaan bisnis tersebut harus berperilaku secara etis. Menjalankan bisnis secara etis pada era industrialisasi global saat ini menjadi pilihan utama sebagai strategi bisnis jangka panjang. Diyakini pula bahwa strategi bisnis yang secara etis


Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
37

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

dapat menciptakan keunggulan kompetitif bagi perusahaan yang pada akhirnya dapat menghantarkan perusahaan menjadi pemenang dalam persaingan.

Perusahaan bisnis paling modern yang paling signifikan adalah korporasi. Sekarang ini organisasi korporasi mendominasi ekonomi. Organisasi korporasi memunculkan problem-problem besar bagi siapapun yang berusaha menerapkan standar moral pada aktivitas bisnis. Sebagian dari Organisasi korporasi masa kini merupakan perusahaan multinasional. Karena beroperasi di sejumlah negara yang berbeda korporasi multinasional menghadapi sejumlah permasalahan Etika Bisnis yang layak mendapatkan perhatian. Disamping itu, Teknologi mempunyai dampak revolusioner terhadap bisnis dan masyarakat. Teknologi yang berkembang di akhir dekade abad ke-20 mentransformasi masyarakat dan bisnis dan menciptakan potensi problem etika baru. Yang paling mencolok diantara perkembangan ini adalah revolusi dalam bioteknologi dan apa yang sering disebut teknologi informasi meliputi perkembangan komputer, internet, komunikasi nirkabel, digitalisasi dan lainnya.

Berdasarkan paparan diatas penulis tertarik melakukan peninjauan lebih jauh dari sudut pandang teori dan aplikasi mengenai “Etika Bisnis sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang dalam Era Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi”








38       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

1.2 Identifikasi Masalah

Dapat di rumuskan masalah yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini:

1.      Bagaimana Etika, Etika Bisnis , Etika Masyarakat, Dan Etika Global ?

2.      Bagaimana Cara Pandang Organisasi Cybernetic terhadap Etika Bisnis?

3.      Bagaimana Kerangka Konseptual Etika Bisnis Dan Perusahaan Meliputi Struktur, Proses Dan Kinerja ?

4.      Bagaimana Dinamika Etika Bisnis Sebagai Fungsi Waktu Dan Budaya Dalam Model Dan Kasus?

5.      Bagaimana Standar Penalaran Moral ?

6.      Bagaimana Etika Pengambilan Keputusan Diwujudkan Dalam Model Integratif Untuk Praktik Bisnis?

7.      Bagaimana Kinerja Etika Bisnis Diukur Dengan Kerangka Konseptual?



2.      Pembahasan

2.1 Etika, Etika Bisnis, Etika Masyarakat, dan Etika Global

2.1.1     Pengertian Etika

Raymond Baumhart (1968) melakukan penelitian klasik menanyai lebih dari 100 orang bisnis, apakah arti Etika? Hasilnya adalah sebanyak 50% pebisnis mendefinisikan etika sebagai “apa yang dikatakan perasaan saya kepada diri saya bahwa hal itu benar,” sebanyak 25 % mendefinisikan dalam istilah religius “apa yang sesuai

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
39

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

dengan kepercayaan religius saya,” sebanyak 18% mendefinisikan sebagai “apa yang sesuai dengan peraturan yang mulia”. Namun demikian perasaan sebetulnya dasar yang tidak memadai untuk penilaian Etika (Velasquez:2005).

Mengawali pembahasan dalam bab ini, akan ditinjau terlebih dahulu mengenai definisi atau pengertian Etika dari pendapat beberapa pakar sebagai berikut:

Pendapat Wiley (1995) mengatakan : “Ethics is concerned with moral obligation, responsibility and social justice.”

Pendapat Harris (1995) mengatakan : “Ethics as ..that which is to do with code of conduct which clarifies one’s duty toward other human beings, even beyond whai is required by law.”

Pendapat Walton (1977) dan Mauro (1987) mengatakan : “Ethics is A critical analysis of human acts to determine their rightness or wrongness in terms of two major criteria : truth and justice.”

Etika menurut dalam kamus webster’s International Dictionary makna yang pertama adalah : “prinsip tingkah laku yang mengatur individu atau kelompok”.

Sedangkan makna yang kedua : Etika adalah “kajian moralitas”.

Etika menurut Velasquez (2005) merupakan :




40       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

“ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat.”

“penelaahan standar moral-proses pemeriksaan standar moral orang atau masyarakat untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau tidak untuk diterapkan dalam situasi dan permasalahan konkret. Tujuan akhir standar moral adalah mengembangkan bangunan standar moral yang kita rasa masuk akal untuk dianut-standar yang telah kita pertimbangkan dan kita putuskan secara cermat adalah standar yang benar untuk kita terima dan terapkan pada pilihan-pilihan yang mengisi hidup kita.”



2.1.2    Pengertian Etika Bisnis

Setelah sebelumnya telah dibahas pengertian Etika, maka selanjutnya kita bahas pengertian dari Etika Bisnis dari pendapat pakar sebagai berikut :

Walton (1977) mendefiniskan Etika Bisnis yaitu :

“Business ethics A range of criteria whereby human actions are judge to include such things as societal expectations; fair competition; the aesthetics of advertising and the use of public relation; the meaning of social responsibilities; reconcling corporate behaviour at home behaviour abroad; the extent of customer sovereignty; the relevance of

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
41

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

corporate size; the handling of communication, and the like.”

Velasquez (2005) menyatakan bahwa :

“Etika bisnis merupakan studi standar moral dan bagaimana standar itu diterapkan kedalam sistem dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi. Studi ini tidak hanya mencakup analisa norma moral dan nilai moral, namun juga berusaha

mengaplikasikan kesimpulan-kesimpulan analisis tersebut ke beragam isntitusi, teknologi, transaksi, aktivitas, dan usaha-usaha yang kita sebut bisnis.”



Preuss (2008) mengatakan bahwa :

“Business ethics is described as a part of a veritable explosion of concept that aim to explain what the proper role of business in society should be”

BE is the branch of ethics that examines ethical rules

and principles within acommercial context (http://en.wikipedia.org/wiki/).

BE is the field of ethics that examines moral contraversies related to the social responsibilities/of business practice, in any economic system (www.merriamwebster.com/dictionary).



42       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

BE is the study of business situations, activities, and decisions where issues of right and wrong are addressed (Crane and Matten, 2003).



2.1.3    Sejarah Evolusi Etika Bisnis

Etika bisnis telah mengalami perkembangan dari dulu sampai saat sekarang ini. Perkembangan etika bisnis dikenal dengan istilah evolusi etika bisnis. Berikut ini pandangan dari beberapa pakar mengenai hal ini.

De George (1987, hal 201) berpendapat bahwa :

“sejarah etika dalam bisnis adalah sejarah yang panjang, seperti akan kembali pada sejarah bisnis dimulai"

De George (1987, hal 203) selanjutnya mengatakan :

“tahun 1985 sebagai titik dalam sejarah bisnis saat etika telah menjadi suatu disiplin akademis meskipun masih dalam proses definisi"

Sebuah paper dengan judul “A longitudinal and contextual analysis of media representation of business ethics” ditulis oleh R. Barkemeyer, D. Holt, F. Figge dan G. Napolitano yang dimuat dalam jurnal European Business Review Vol. 22 No. 4 Tahun 2010 telah menyajikan sebuah tabel The Business Ethics timeline.




Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
43

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Perkembangan Iklim etika bisnis dibagi kedalam kurun 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan 2000-an. Begitu halnya juga dengan perkembangan dilema etika bisnis di bagi kedalam kurun waktu yang sama. Dalam tabel tersebut ditunjukkan bagaimana perubahan iklim etika bisnis dan dilema etika bisnis dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lainnya. Iklim etika pada tahun 1960-an adalah kerusuhan sosial, sentimen anti perang. karyawan memiliki hubungan yang berlawanan dengan manajemen, pergeseran nilai dari loyalitas untuk sebuah perusahaan untuk setia kepada cita-cita/idealisme, nilai-nilai yang sudah usang/tua dikesampingkan. Dilema etika bisnis yang dihadapi pada tahun 1960-an adalah masalah lingkungan, peningkatan ketegangan antara karyawan dengan majikan, dominasi isu-isu hak-hak sipil, kejujuran, perubahan etos kerja, selain itu dilema etika bisnis adalah masalah mengenai penggunaan narkoba/obat-obatan meningkat.

Iklim etika bisnis pada tahun 1970-an adalah kontraktor utama industri pertahanan dan lainnya terlibat skandal, ekonomi mengalami resesi, angka pengangguran meningkat, terdapat perhatian yang tinggi terhadap lingkungan, Masyarakat mendorong agar bisnis menjadi akuntabel atas etika bisnis. Dilema etika bisnis yang dihadapi adalah militansi karyawan (karyawan versus mentalitas manajemen), permukaan hak asasi manusia (kerja paksa, upah di bawah standar, praktek tidak aman). Beberapa perusahaan memilih untuk menutup-nutupi bukan menyelesaikan/menyikapi dilema yang ada dengan benar.




44       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Tabel 1. The Business Ethic Timeline


Pada kurun waktu 1980-an iklim etika bisnis yang terjadi adalah kontrak sosial antara pengusaha dan karyawan didefinisikan ulang, kontraktor bidang pertahanan dituntut agar sesuai dengan aturan secara ketat, korporasi melakukan restrukturisasi/penghematan, sikap tentang

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
45

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

kesetiaan kepada majikan yang terkikis, penekanan tentang etika perawatan kesehatan. Dilema etika bisnis yang dihadapi pada kurun 1980-an adalah suap dan praktek ilegal kontraktor, menjajakan pengaruh, iklan yang menipu, penipuan keuangan (skandal tabungan dan pinjaman), timbul masalah transparansi.

Pada kurun waktu 1990-an iklim etika bisnis yang terjadi yaitu ekspansi global membawa tantangan etika baru, terdapat keprihatinan utama tentang pekerja dibawah umur (anak), fasilitasi, pembayaran (suap), dan masalah lingkungan. munculnya internet tantangan bagi batasan-batasan budaya. The Global Sullivan Prinsip diluncurkan pada tahun 1999. Dilema etika bisnis yang muncul pada tahun 1990-an Praktek kerja yang tidak aman di negara dunia ketiga, peningkatan kewajiban perusahaan untuk kerusakan terhadap individu manusia (perusahaan rokok, Dow Kimia, dll), mismanajemen Keuangan dan penipuan.

Iklim etika bisnis pada tahun 2000-an adalah pertumbuhan ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya diikuti oleh kegagalan aspek keuangan, isu-isu Etika menghancurkan beberapa perusahaan high profile. Data pribadi yang dikumpulkan dan dijual secara terbuka. Wabah

Hacker dan pencurian data bisnis dan lembaga pemerintahan. Tindakan teror dan agresi terjadi secara internasional, Global Compact PBB mengadopsi 10 Prinsip Anti Korupsi pada tahun 2004, konvensi PBB perang melawan Korupsi diadopsi oleh Majelis Umum PBB Oktober tahun 2003.




46       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Dilema etika bisnis yang muncul pada kurun waktu 2000-an adalah kejahatan cyber. masalah privasi data (data mining), salah urus Keuangan. korupsi Internasional, hilangnya privasi - karyawan versus majikan, pencurian kekayaan intelektual, Peran usaha dalam mempromosikan pengembangan berkelanjutan.

Montes-y-Gomez et al (2001) menyajikan tabel yang memuat beberapa kejadian pokok yang telah mempengaruhi lingkungan etika bisnis secara detail dari tahun 1984 – 2007 sebagai berikut :

Tabel 2. Major ethical/environmental event 1984-2008.




Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
47

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

R. Barkemeyer, D. Holt, F. Figge dan G. Napolitano melakukan analisis longitudinal dan kontekstual etika bisnis yang direpresentasikan oleh media koran. Sebanyak 62 koran internasional di 21 negara dari tahun 1990 s.d 2008 menjadi sampel penelitian bagi analisa longitudinal etika bisnis. Hasilnya menunjukan sebagaimana gambar dibawah ini Fokus analisa longitudinal ingin mengetahui sejauhmana kemungkinan topik etika bisnis secara rata-rata muncul dalam koran setiap bulannya. Topik etika bisnis nya diperluas dengan tema lain yang terkait karena beberapa literatur menyarankan etika bisnis terkait dengan the three pillars sustainability yaitu the triple bottom line of economic, environmental, and social responsibility.

Rumus perhitungan hits per news paper issue adalah :

Jika angka hit per issue misalnya sebesar 0,1 artinya terdapat kemungkinan 10% rata-rata 1 artikel tentang etika bisnis muncul koran dalam 1 bulan.
















48       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Gambar 1. Longitudinal trends in coverage of businees ethics and associates term.
Berdasarkan nilai hit per np issue terlihat ada nilai yang signifikan dalam termin sustanaibility development, bahkan pada tahun antara tahun 2002 dan 2003 mencapai level 0.7 artinya 70% kemungkinan rata-rata muncul 1 artikel tentang istilah sustainability development atau dengan kata lain 70 koran dari 100 koran per bulan. Hal ini berhubungan dengan penyelenggaraan KTT Bumi di Johanesburg pada tahun 2002.

Mengenai istilah etika bisnis itu sendiri dari tahun 1995 sampai dengan 2002 tetap konstan dibawah angka 0.06 artinya kurang dari 6 buah koran dari 100 koran perbulan memuat artikel terkait etika bisnis. Pada tahun 1995 pernah mencapai puncak hal ini terkait kontroversi The Bodyshop,

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
49

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Harrods dan suap di lingkungan pemerintahan inggris. Pada tahun 2002 pernah mencapai puncak terkait dengan Enron, WorldCom, skandal Adelphia dan cakupan dari undang-undang Sarbanes-Oxley dan difokuskan terutama di AS.



Gambar 2. Regional Coverages of business ethics

Berdasarkan grafik diatas, secara keseluruhan tedapat cakupan yang tinggi di wilayah Afrika Selatan, namum masih memunculkan bias karena data hanya selama 10 tahun. Di Inggris pernah mencapai puncak pada tahun 1995 manakala Isu suap di Inggris cukup berdampak pada cakupan media di Asia Tenggara khususnya Hongkong yang terlibat skandal tetapi tidak terlalu berdampak bagi cakupan media di AS, Australia, Kanada. Mendekati akhir tahun 2008, cakupan etika bisnis yang paling besar yaitu berturut-turut di: AS,



50       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Afrika Selatan, Inggris, Australia, Asia Tenggara, dan Kanada.

Gambar 3. Comparison business ethics and associated terms
Garis tren perbandingan cakupan media tentang istilah Etika Bisnis dan CSR disajikan dalam Gambar 3 diatas. Hasilnya menunjukan garis trens etika bisnis relatif konstan, pada akhir 2008 di level 0.03. untuk garis tren CSR menunjukan tren peningkatan, pada akhir 2008 berada pada level 0.13.





Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
51

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

2.1.4    Persepsi yang menyeluruh tentang isi dari Etika Bisnis

Sebuah jurnal dengan judul Toward a holistical perception of the content of business ethics yang ditulis oleh Vojko Potocan dan Matjaz Mulej dimuat dalam Kybernetes Vol. 38 No.3/4 2009, menyajikan bagan Kerangka Teoritis Etika bagi Isi etika organisasi bisnis sebagai berikut:

Gambar 4. Ethics theory framework for BE Content
Para Filsuf pada hari ini biasa menggelompokkan etika kedalam 3 area umum yaitu: metaethics, normative ethics, dan applied ethics. Secara lebih detailnya dapat dilihat dalam tulisan Ulrich (1997), Kagan (1998), Wilson (1998), Ferrel et al (2007). Para filsuf juga mengembangkan



52       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

sejumlah doktrin filosofis yang menjelaskan bagaimana mengambil suatu pilihan yang terbaik bagi individu dan masyarakat (Kohlberg, 1976; Shea, 1998; Singer, 1999; Jennings, 2005; Trevino and Nelson, 2006). Doktrin filosofi yang dimaksud adalah altuirsm, divine command ethics, consequentialisme, Virtue ethics, social contract theory, dan lainnya.

Prinsip-prinsip normatif yang penting beberapa diantaranya adalah : personal benefit, social benefit, principle of benevolence, principle of paternalism, principle of harm, principle of honesty. (Ulrich, 1997; Velasquez, 2005; Potocan and Mulej, 2007; Trevino and Nelson, 2006; etc.)

Modern theory and practice discuss ethics and/or BE using (specific) bases of ethics, especially concerning applied ethics, such as: ethics by cases (Shea, 1998; Jennings, 2005), political virtues (Crick, 1982, 2002), situational ethics (Ross, 1995; Simons and Usher, 2000), descriptive ethics (Singer, 1999; Shaw, 2007), and the analytic view of ethics (Bostock, 2000; Simons and Usher, 2000; Bowie, 2002; etc.).

Selanjutnya Vojko Potocan dan Matjaz Mulej juga menyajikan bagan faktor-faktor yang mempengaruhi etika bisnis organisasi. Dijelaskan dalam bagan tersebut faktor yang mempengaruhi ada 2 yaitu :

a.       Faktor Umum yang terdiri dari (Economic, Industrial, Historical and Culture dan Organizational). (Potocan, 2002, 2006; Potocan and Mulej, 2005, for details concerning each general factor – but not in their synergy,

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
53

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

see for example, Cooper and Argyris, 2000; Daft, 2002; Jennings, 2005; Stanwick and Stanwick, 2008; etc.)

b.      Faktor Khusus meliputi (BE organization stakeholders, Structural factor, content factor, dan VCEN organization). (For details concerning each specific factor – but not in their synergy, see for example, Cooper and Argyris, 2000; Daft, 2002; Jennings, 2005; Stanwick and Stanwick, 2008; etc.)


Gambar 5. Factors that influence on organizational Business Ethics
Faktor khusus VCEN Organization artinya Value (nilai), Culture (Budaya), Ethics (Etika) dan Norms (Norma) yang dimiliki individu dan organisasi. Faktor khusus



54       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

struktural meliputi; formalization, specialization, hierarchy of authority, centralization, profesionalism dan rasio personnel dan lainnya. Faktor khusus content organizational meliputi : Technology, skills, size, objective and strategy, dan environment.

2.1.5     Etika Masyarakat

Gail C. Furman menulis sebuah makalah dengan judul “The ethic of community” yang dimuat dalam Journal of Educational Administration Vol. 42 No.2 Tahun 2004 dengan bertujuan untuk mengusulkan konsep etika masyarakat untuk melengkapi dan memperluas frame etika lainnya yang digunakan dalam pendidikan. Etika masyarakat melengkapi dan memperluas bingkai dikembangkan oleh Starratt (1994) dan Shapiro dan Stefkovich (2001) dalam fokus pada komunal dan bukan individu.

Mungkin kerangka etika yang paling dikenal umum digunakan dalam pendidikan adalah kerangka tripartit yang dikembangkan oleh Starratt (1994, 2003). Starratt mengklaim bahwa tiga "etika" mendasari praktek etika: etika keadilan, etika kritik, dan etika pelayanan. Furman mendefinisikan etika masyarakat adalah :

“Etika komunitas didefinisikan sebagai tanggung jawab moral untuk terlibat dalam proses komunal sebagai pendidik mengejar tujuan moral dari pekerjaan mereka dan mengatasi tantangan yang harus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari”

Selanjutnya disajikan bagan dibawah ini:

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
55

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Gambar 6. Ethical framework centered in the ethic of

community.

Etika keadilan mensyaratkan bahwa kita mengatur diri kita dengan memperhatikan keadilan. Artinya, kita memperlakukan satu sama lain menurut beberapa standar keadilan yang seragam diterapkan ke semua kita hubungan (Starratt, 1994, hal 49). Dengan kata lain, keadilan atau perlakuan yang sama adalah nilai inti yang mendasari etika keadilan: Ide dasar keadilan adalah bahwa masyarakat harus menetapkan aturan yang adil bagi semua dan kemudian hidup oleh aturan mereka (Noddings, 1999). Etika kritik diperlukan karena tidak ada tatanan sosial yang netral. Tantangan etisnya adalah membuat pengaturan sosial lebih responsif terhadap hak asasi manusia bagi setiap warga negara (Starratt, 1994,



56       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

hal 47). Etika perawatan mutlak membutuhkan sikap menghargai martabat dan nilai intrinsik setiap orang dan keinginan untuk melihat bahwa orang-orang menikmati hidup (Starratt, 2003, hal 145). Lebih lanjut, etika perawatan berfokus pada tuntutan hubungan, bukan dari kontrak atau sudut pandang legalistik, tetapi dari sudut pandang menghargai dan cinta.

2.1.6    Etika Global

Sebuah paper ditulis oleh Anthony Howard dengan judul A New Global Ethic dimuat dalam Jurnal of Management Development Vol. 29 No. 5 Tahun 2010. Tujuan penulisan paper tersebut untuk menggali potensi bagi para pemimpin bisnis untuk melakukan kebaikan dengan cara yang sepenuhnya terintegrasi dengan tujuan organisasi dan tujuan pribadi mereka. Mengingat isu utama menghadapi masyarakat, termasuk kerapuhan lingkungan, kerentanan keuangan dan mengurangi pengaruh lembaga-lembaga tradisional, mengusulkan perlunya etika global baru, dan menyarankan bahwa para pemimpin perusahaan global memiliki kesempatan khusus untuk membuat perbedaan besar dalam mendorong etika.

Makalah tersebut mengidentifikasi tiga unsur kunci yang sangat penting untuk kepemimpinan yang efektif:

a.       untuk menguasai seni menjadi manusia,

b.      untuk menguasai seni menjalankan sebuah perusahaan yang sukses,



Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
57

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

c.   untuk menjadi pelayan kepada masyarakat dengan mengembangkan etika global yang baru dalam lingkup pengaruh mereka.


Kenyataan menunjukkan bahwa dunia kita saat ini dan bisnis didalamnya mengalami ketidakpastian contoh yang terkini mengenai krisis keuangan global, Ferguson (2008) mengatakan ada 3 sebab kerentanan dunia ini :

(1)  ketidakpastian dan tidak dapat diprediksinya masa depan;

(2)  irasionalitas perilaku manusia dan kekeliruan pemikiran manusia, dan

(3)  dampak kekuatan-kekuatan evolusi sosial pada perekonomian, yang mengarah pada kepunahan

organisasi            sebesar            10           %            per           tahun.

Antony Howard (2010) mengatakan :

“Kita perlu cara baru berpikir dan bertindak pada tingkat global - sebuah etika global yang baru untuk abad 21.

Meningkatnya kompleksitas, ambiguitas dan interkoneksi di kehidupan abad 21 berarti bahwa kita harus berpikir dan bertindak secara global, sedangkan hidup lokal. Tidak ada lagi cukup untuk hanya bertindak lokal dan berpikir global. Untuk memeluk suatu etika global yang baru memerlukan adopsi terhadap suatu perspektif/pandangan baru untuk dunia kita, lembaga kita, hubungan kita dan diri kita sendiri, dalam arus nilai-nilai abadi manusia, mengenali tanggung jawab kita




58       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

untuk planet ini, pada zaman ini, dan generasi yang datang setelah kita. Perspektif ini mengakui kita tidak dalam isolasi, baik sebagai manusia, negara atau institusi, dan tidak dapat mengabaikan dampak dari tindakan kita pada orang lain.”

Sebagai respon terhadap etika yang berlaku dari keserakahan dan kepentingan pribadi, yang telah gagal untuk memberikan dunia yang kita inginkan, sebuah etika global baru akan mencakup sejumlah elemen. (Anthony Howard,2010)

1. Sustainable (Keberlanjutan).

"Bisnis adalah masalah pelayanan manusia" kata Merril J. Fernando, pendiri Dilmah Tea. Diakui pula adanya kedalaman hubungan manusia antara bisnis dan dunia (Fernando, 2009).

Etika keberlanjutan meliputi:

a.       Keberlanjutan Bakat, bergerak di luar daya tarik, retensi dan pengembangan bakat untuk menciptakan lingkungan dan praktek-praktek yang menyegarkan dan meningkatkan orang untuk hidup panjang dan sehat.

b.      Keberlanjutan Organisasi, mengakui bahwa korporasi merupakan bagian dari sistem sosial yang luas, dan bahwa memiliki sebuah lembaga baik yang sukses dalam jangka panjang tergantung pada keuangan perusahaan yang memiliki dampak positif pada masyarakat/sistem yang lebih luas.

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
59

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

c.       Keberlanjutan Sosial, mengakui bahwa setiap orang adalah bagian dari jaringan sosial, tidak peduli seberapa berbeda, dan bahwa lembaga perlu untuk berkontribusi pada pelestarian daripada pemisahan jaringan ini pada tingkat lokal, nasional dan global. Kelompok usaha dengan etika global yang baru menilai dampak keputusan dan tindakan mereka di semua set hubungan manusia, menjadi sangat hati-hati untuk memastikan apa yang mereka lakukan memberikan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat yang lebih besar.

d.      Keberlanjutan Global, yang mengakui bahwa kita memiliki tapak yang memanjang di lingkungan, komunitas bangsa-bangsa, dan mencapai ke bawah berturut-turut melalui generasi.


2.  Nilai-nilai Manusia yang tak lekang oleh waktu (Timeless Human Values)

Ada seperangkat nilai-nilai universal diterima sebagai nilai etis yang berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk keadilan, kejujuran, kepercayaan, menghormati hak hidup manusia, cinta, kebebasan, toleransi (Kidder, 1995). Keberhasilan bisnis jangka panjang tergantung pada penerapan nilai-nilai ini (Senge, 2008, hal xiii).

Bisnis dan orang yang beroperasi dengan etika global baru mengambil waktu untuk mengajukan pertanyaan seperti:




60       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

(1)      Apakah kebenaran dari masalah ini? Apa fakta? Apakah ini telah diungkapkan atau dibahas?

(2)      Apa yang mesti dihargai / dinikmati / dirayakan dalam situasi ini atau dengan orang ini?

(3)      Apakah hal yang benar untuk dilakukan, cara yang tepat untuk bertindak?

(4)      Apakah tindakan ini adil untuk semua yang terlibat?

(5)      Apakah kita bersikap jujur di sini, atau adalah sesuatu yang telah ditutup-tutupi?

(6)      Apakah kita mengajukan semua pertanyaan, atau ada pertanyaan tertentu yang sedang dihindari?

(7)      Apa yang kita lakukan untuk mendorong dan melepaskan potensi manusia dan membantu orang menjalani penuh kehidupan manusia?

(8)      Apakah kita melakukan sesuatu (seperti upah rendah atau jam panjang, misalnya) yang akan mengurangi dari orang-orang hidup yang mampu hidup sepenuhnya manusia?

(9)      Apa yang kita lakukan yang memperlihatkan kepedulian yang tulus dan kasih sayang untuk orang yang kita sentuh melalui organisasi kita ?

(10)  Apakah kita memperlakukan orang sebagai individu dengan harapan dan impian, bakat dan keterampilan, atau sebagai unit produksi ekonomi?

(11)  Apakah kita melakukan apa saja yang menghalangi orang memiliki kebebasan, termasuk kebebasan pilihan, dan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat tanpa rasa takut?



Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
61

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

(12)  Apakah kita benar-benar toleran terhadap pandangan orang lain, walau ketika itu berbeda dengan kita?


3. Keseluruhan sistem berfikir.

Sebuah etika global baru mengakui bahwa individu tidak ada dalam isolasi, juga tidak ada perusahaan dalam isolasi. Mereka ada sebagai bagian dari suatu sistem yang lebih besar dan partisipasi mereka dalam sistem ini harus

menginformasikan pemikiran, walaupun memiliki konsekuensi negatif jangka pendek.



2.2  Business Cybernetics dan Etika Bisnis


In Kybernetes, Vol. 34 Nos. 9/10, pp. 1496-516

we published “Business cybernetics – aprovocative suggestion” (Potocan et al., 2005).

Potocan defined that

BC is specializing in organizations and individuals as so-called BSs emphasizing the so-called business viewpoints rather than the natural and/or technical/technological viewpoints of consideration of features, events and processes comprised of real life.

Selanjutnya dalam paper lainnya Potocan dan Mulej

(2009) menggambarkan suatu konsep cara padang organisasi


62       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Bisnis Cybernetic terhadap isi dari Etika Bisnis sebagai berikut :

Etika bisnis menjadi aspek yang dilibatkan dalam proses Input, Transformasi dan Output perusahaan Bisnis Cybernetics.



Selanjutnya, perlu diketahui juga bahwa prinsip-prinsip etika yang dijadikan sebagai dasar analysis bagi penetapan strategi manajemen.


Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
63

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

2.3 Kerangka Konseptual Etika Bisnis dan Perusahaan Meliputi Struktur, Proses Dan Kinerja


Pada pembahasan di sub-bab ini akan dipelajari konsep teoritis etika bisnis dan perusahaan. Goran Svensson dan Greg Wood (2011) menulis suatu paper yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menjelaskan suatu kerangka kerja konseptual perusahaan dan etika bisnis di seluruh organisasi dalam hal struktur etika, proses etis dan kinerja etika.

Gambar 7. A conceptual frame work of corporate and business ethics across organization: structure, processes and performance.












64       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Berdasarkan   bagan   diatas   dapat  kita   lihat    bahwa

Struktur Etika terdiri dari :

a.       Kode etik

Sebuah sub-bidang penting struktur etika dalam kerangka konseptual etika organisasi perusahaan dan bisnis di seluruh organisasi adalah kode etik. Sejak awal 1980-an, sejumlah studi di bidang kode etik perusahaan telah telah dilakukan di Amerika Serikat (misalnya Cressey dan Moore, 1983; Chonko et al, 2003.), di Inggris (misalnya Le Jeune dan Webley, 1998), di Kanada (Lefebvre dan Singh, 1992; Schwartz, 2002; Singh, 2006) di Swedia (Svensson et al, 2004), di Australia (Kaye, 1992;. Farrell dan Cobbin, 1996; Wood, 2000; Wood dan Callaghan,


Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
65

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

2003). Studi kode etik telah juga dilakukan pada perusahaan multinasional terbesar yang beroperasi di berbagai yurisdiksi di dunia (Bethoux et al, 2007;. Singh et al, 2005;. Wood et al, 2004.).

Studi telah menemukan bahwa memiliki kode etik memberi dampak positif terhadap etika perilaku dan perilaku organisasi (Adams et al, 2001;. Schwartz, 2001; Wotruba et al, 2001). Stajkovic dan Luthans (1997) melihat kode etik sebagai salah satu parameter penting untuk mempengaruhi standar etika organisasi dan individu. Berenbeim (2000) melihat kode etik sebagai memiliki peran penting membuat organisasi menjadi lebih etis.

b.      Audit Etika

Sub-wilayah lain struktur etika dalam kerangka konseptual etika organisasi perusahaan dan bisnis adalah melakukan audit etika. Sejumlah penulis telah menyarankan kebutuhan untuk menggabungkan audit etika ke dalam proses suatu organisasi (Crotts et al, 2005;. Laczniak dan Murphy, 1991; Murphy, 1988). Garcia-Marza (2005) memandang audit etika sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses pengembangan kepercayaan.



c.       Etika ombudsman

Organisasi yang ditunjuk dalam posisi ini, agar individu dalam organisasi yang memiliki perhatian yang tulus



66       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

dapat merasa bebas untuk menyuarakan keprihatinan ini ke arbiter mandiri (Crotts et al, 2005;. Laczniak dan Murphy, 1991; Murphy, 1988).

d.      Komite Etika

Pengembangan Komite etika merupakan struktur penting direkomendasikan oleh sejumlah penulis (Pusat Etika Bisnis, 1986; Wood, 2002). Komite Etika diyakini dapat mendukung pengembangan, pengelolaan dan pemantauan terhadap praktek bisnis yang etis.

e.       Komite pelatihan etika

f.       Dukungan bagi Whistle-blowers


Selanjutnya dari bagan diatas dapat diketahui bahwa proses etika terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut:

a.       Penilaian kinerja etika;

b.      Pendidikan staf;

c.       Membantu dalam perencanaan strategis;

d.      Konsekuensi pelanggaran;

e.       Komunikasi kode untuk pekerja organisasi;

f.       Penyebaran kode untuk staf baru;

g.      Penyebaran kode untuk pelanggan;

h.      Penyebaran kode kepada pemasok;

i.        Komunikasi kode kepada para pemangku kepentingan lainnya;

j.        Revisi kode




Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
67

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Sementara elemen dari kinerja etika adalah :

a.       Memecahkan dilema etika;

b.      Membantu garis bawah,

c.       Efektivitas kode

.

Dinamika Etika Bisnis terhadap Fungsi Waktu Dan Budaya Dalam Model



Goran svensson dan Greg wood (2003) menulis makalah yang membahas etika bisnis haruslah dinamis mengingat terdapat dua parameter waktu dan budaya. Etika bisnis bisa diterima atau tidak karena perbedaan waktu dan budaya. Oleh karena itu hal ini harus menjadi perhatian bagi pelaku bisnis.



Dalam paper tersebut, dijelaskan hubungan antara budaya dan waktu, seperti diilustrasikan dibawah ini:

Hubungan etika bisnis dengan budaya diilustrasikan dalam bagan dibawah ini:







68       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Hubungan etika bisnis dengan waktu, diilustrasikan dalam bagan dibawah ini:


Dinamika etika bisnis terhadap waktu dan budaya disajikan dalam model umum:
Etika bisnis dalam penerapannya akan menghadapi gap dengan pandangan pihak lain, seperti di ilustrasikan dalam model dibawah ini :








Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
69

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Skenario yang akan terjadi pada posisi adanya gap etika bisnis dengan pandangan pihak lain yaitu :
Berdasarkan konstruksi model-model yang sebelumnya maka tercipta sebuah model Dinamika Etika


70       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

Bisnis terhadap waktu dan budaya di gambarkan sebagaimana berikut:




2.4  Standar Penalaran Moral

Penelaran moral mengacu pada proses penalaran di mana perilaku, institusi, atau kebijakan dinilai sesuai atau melanggar standar moral. Penalaran moran selalu melibatkan dua komponen mendasar, diantaranya :

a.       Pemahaman tentang yang dituntut, dilarang, dinilai atau disalahkanoleh standar moral yang masuk akal.

b.      Bukti atau informasi yang menunjukkan bahwa orang, kebijakan, institusi, atau perilaku tertentu mempunyai ciri-ciri standar moral yang menuntut, melarang menilai, atau menyalahkan.



Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
71

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Untuk menyingkap standar moral yang implisit yang merupakan dasar penilaian moral seseorang, orang harus melacak kembali penalaran moralnya ke dasar-dasarnya. Hal ini dilakukan dengan menanyakan beberapa hal :

a.       Standar informasi faktual apa yang diterima seseorang sebagai bukti penilaian moral ini ?

b.      Standar moral apakah yang diperlukan untuk menghubungkan informasi faktual ini (secara logis) dengan penilaian moral ?

Dalam menganalisis penalaran moral ada beragam kriteria yang dilakukan para ahli etika untuk mengevaluasi kelayakan penalaran moral, antara lain :

1.      Yang paling utama, penalaran moral harus logis. Analisis penalaran moral menuntut logika argumen yang digunakan untuk menyusun penilaian moral telah diteliti secara ketat, asumsi moral dan faktual yang tidak dikatakan telah dibuat secara eksplisit, dan baik asumsi maupun premis-premisnya diperlihatkan dan terbuka terhadap kritik.

2.      Bukti faktual yang dikutip untuk mendukung penilaian harus akurat, relevan, dan lengkap.

3.      Standar moral yang melibatkan penalaran moral seseorang harus konsisten. Standar-standar itu harus konsisten satu sama laindan dengan standar dan keyakinan yang lainyang diyakiniseseorang. Inkonsistensi antarstandar moral seseorang dapat disingkap dan





72       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

dikoreksi dengan mencermati situasi di mana standar moral tersebut menghadapi hal-hal yang bertentangan.


2.5 Etika Pengambilan Keputusan Diwujudkan Dalam Model Integratif Untuk Praktik Bisnis


J.R.C. Pimentel , J.R. Kuntz dan Detelin S. Elenkov menulis paper dengan judul “Ethical decision making an Integrative Model for Business practice” yang dimuat dalam Jurnal European Business Review Vol. 22 No.4 Tahun 2010, menyajikan suatu model integratif seperti dibawah ini :




























Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
73

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi





74       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

2.6 Kinerja Etika Bisnis Diukur Dengan Kerangka Konseptual

Goran svensson dan Greg Wood (2004) menulis sebuah paper dengan judul “Proactive versus reactive business ethics performance: a conceptual frame work of profile analysis and case ilustration” dimuat dalam Jurnal Corporate Governance Vol,4 No.2 Tahun 2004. Menghasilkan model dan hasil analisa kasus sebagai mana dibawah ini :

Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
75

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi











76       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78

DAFTAR PUSTAKA


Barkemeyer. R , Holt. D, Figge. F, and Napolitano. G, “A Longitudinal And Contextual Analysis Of Media Representation Of Business Ethics”, Journal European Business Review, Vol. 22 No. 4 pp.377-396 Tahun 2010

Furman. C. Gail “The Ethics of Community” Journal of Educational Administration, Vol. 42 No. 2 pp.215-235 Tahun 2004

Howard. Anthony “Perspective On Practice: A New Global Ethics” Journal of Management Development, Vol. 29 No. 5 pp. 506-517 Tahun 2010

Mauro. Nicholas, Natale. M. Samuel and Libertella. F. Anthony, “personal values, business ethics and strategic development”, Journal Cross Cultural Management, Vol. 6 No. 2 pp.22-28 Tahun 1999

Pimentel, Kuntz and Elenkov, “Ethical decision-making an integrative model for business practice”, Journal European Review, Vol. 22 No. 4 pp.359-375 Tahun 2010

Potocan. Vojko and Mulej. Matlaz, “Toward A Holistical Perception Of The Content Of Business Ethics”, Journal Kybernetes, Vol. 38 No.3/4 pp.581-595 Tahun 2009


Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
77

Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi

Prasad. Ajnesh “Toward A System Of Global Ethics In International Business: A Rawlsian Manifesto”, Journal Management Decision, Vol. 46 No. 8 pp.1166-1174 Tahun 2008

Schwartz. Mark “The business ethics of Management Theory”, Journal of Management History, Vol. 13 No.1 pp.43-54 Tahun 2007

Svensson G, and Wood. G, “Proactive versus reactive business ethics performance: a conceptual framework of profile analysis and case illustrations”, Journal Corporate Governance, Vol. 4 No.2 pp. 18-33 Tahun 2004


Velasquez G. Manuel “Etika Bisnis” Edisi 5 Penerbit ANDI Yogyakarta Tahun 2005.
























78       Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78