ETIKA
Pengertian
Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang
berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya
berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin,
yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan
atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan),
dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama
pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu
moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika
adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Istilah
lain yang identik dengan etika, yaitu:
·
Susila (Sanskerta), lebih
menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih
baik (su).
·
Akhlak (Arab), berarti moral,
dan etika berarti ilmu akhlak.
Filsuf
Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang
pembahasan Etika, sebagai berikut:
·
Termin ius Techicus, Pengertian
etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang
mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
·
Manner dan Custom, Membahas
etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat
dalam kodrat manusia (In herent in
human
nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan
buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
Pengertian
dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya;
antara lain:
1.
Merupakan prinsip-prinsip
moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles
of morality, including the science of good and the nature of the right)
2.
Pedoman perilaku, yang diakui
berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The
rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human
actions)
3.
Ilmu watak manusia yang ideal, dan
prinsip-prinsip moral sebagai
individual. (The
science of human character in its ideal state,
and moral
principles
as of an individual)
4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban
(The
science of duty)
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
- Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
- Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
- Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kitauntuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
TEORI ETIKA
1.Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua
konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme
etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua
tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah
tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan
berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri
(egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat
diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain,
sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang
lain.
2.Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata
Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang
berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat
dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat,
atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the
greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham
egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat
dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme
melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan
masyarakat).
Paham utilitarianisme dapat
diringkas sebagai berikut :
- Tindakan harus dinilai benar atau salah hanya dari konsekuensinya (akibat, tujuan atau hasilnya).
- Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan.
- Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Istilah deontologi berasal dari kata
Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi
mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali
dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi
suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau
tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena
hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu
tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan
orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.
4.Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini
barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk
mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak
merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan dengan
kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak dan kewajiban bagaikan dua sisi dari uang
logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberi tekanan terbesar pada kewajiban,
tapi sekarang kita mengalami keadaan sebaliknya, karena sekarang segi hak
paling banyak ditonjolkan. Biarpun teori hak ini sebetulnya berakar dalam
deontologi, namun sekarang ia mendapat suatu identitas tersendiri dan karena
itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak didasarkan atas martabat manusia dan
martabat semua manusia itu sama. Karena itu teori hak sangat cocok dengan
suasana pemikiran demokratis. Teori hak sekarang begitu populer, karena dinilai
cocok dengan penghargaan terhadap individu yang memiliki harkat tersendiri.
Karena itu manusia individual siapapun tidak pernah boleh dikorbankan demi
tercapainya suatu tujuan yang lain.
Menurut perumusan termasyur dari
Immanuel Kant : yang sudah kita kenal sebagai orang yang meletakkan dasar
filosofis untuk deontologi, manusia merupakan suatu tujuan pada dirinya (an
end in itself). Karena itu manusia selalu harus dihormati sebagai suatu
tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana
demi tercapainya suatu tujuan lain.
5.Teori Keutamaan
(Virtue Theory)
Dalam teori-teori yang dibahas
sebelumnya, baik buruknya perilaku manusia dipastikan berdasarkan suatu prinsip
atau norma. Dalam konteks utilitarisme, suatu perbuatan adalah baik, jika
membawa kesenangan sebesar-besarnya bagi jumlah orang terbanyak. Dalam rangka
deontologi, suatu perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan prinsip “jangan
mencuri”, misalnya. Menurut teori hak, perbuatan adalah baik, jika sesuai
dengan hak manusia. Teori-teori ini semua didasarkan atas prinsip (rule-based).
Disamping teori-teori ini, mungkin
lagi suatu pendekatan lain yang tidak menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan
pada seluruh manusia sebagai pelaku moral. Teori tipe terakhir ini adalah teori
keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau akhlak seseorang. Dalam
etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan sebagai reaksi
atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam mengukur
perbuatan dengan prinsip atau norma. Namun demikian, dalam sejarah etika teori
keutamaan tidak merupakan sesuatu yang baru. Sebaliknya, teori ini mempunyai
suatu tradisi lama yang sudah dimulai pada waktu filsafat Yunani kuno.
Keutamaan bisa didefinisikan sebagai
berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia
untuk bertingkah laku baik secara moral. Kebijaksanaan, misalnya, merupakan
suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap
situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu
memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Kerendahan hati adalah
keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi
mengizinkan. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang
mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan
semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan. Hidup
yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous life).
Menurut pemikir Yunani
(Aristoteles), hidup etis hanya mungkin dalam polis. Manusia adalah “makhluk
politik”, dalam arti tidak bisa dilepaskan dari polis atau komunitasnya. Dalam
etika bisnis, teori keutamaan belum banyak dimanfaatkan. Solomon membedakan
keutamaan untuk pelaku bisnis individual dan keutamaan pada taraf perusahaan.
Di samping itu ia berbicara lagi tentang keadilan sebagai keutamaan paling
mendasar di bidang bisnis. Diantara keutamaan yang harus menandai pebisnis
perorangan bisa disebut : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan.
Keempat keutamaan ini berkaitan erat satu sama lain dan kadang-kadang malah ada
tumpang tindih di antaranya. Kejujuran secara umum diakui sebagai keutamaan
pertama dan paling penting yang harus dimiliki pelaku bisnis. Kejujuran
menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran. Jika mitra bisnis ingin bertanya,
pebisnis yang jujur selalu bersedia memberi keterangan. Tetapi suasana
keterbukaan itu tidak berarti si pebisnis harus membuka segala kartunya. Sambil
berbisnis, sering kita terlibat dalam negosiasi kadang-kadang malah negosiasi
yang cukup keras dan posisi sesungguhnya atau titik tolak kita tidak perlu
ditelanjangi bagi mitra bisnis. Garis perbatasan antara kejujuran dan
ketidakjujuran tidak selalu bisa ditarik dengan tajam.
Ketiga keutamaan lain bisa
dibicarakan dengan lebih singkat. Keutamaan kedua adalah fairness.
Fairness adalah kesediaan untuk memberikan apa yang wajar kepada semua orang
dan dengan “wajar” dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak yang
terlibat dalam suatu transaksi. Insider trading adalah contoh mengenai cara
berbisnis yang tidak fair. Dengan insider trading dimaksudkan menjual atau
membeli saham berdasarkan informasi “dari dalam” yang tidak tersedia bagi umum.
Bursa efek sebagai institusi justru mengandaikan semua orang yang bergiat
disini mempunyai pengetahuan yang sama tentang keadaan perusahaan yang mereka
jualbelikan sahamnya. Orang yang bergerak atas dasar informasi dari sumber
tidak umum (jadi rahasia) tidak berlaku fair.
Kepercayaan (trust) juga
merupakan keutamaan yang penting dalan konteks bisnis. Kepercayaan harus
ditempatkan dalam relasi timbal balik. Ada beberapa cara untuk mengamankan
kepercayaan. Salah satu cara adalah memberi garansi atau jaminan. Cara-cara itu
bisa menunjang kepercayaan antara pebisnis, tetapi hal itu hanya ada gunanya
bila akhirnya kepercayaan melekat pada si pebisnis itu sendiri.
6.Teori Etika
Teonom
Sebagaimana dianut oleh semua
penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia
selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan
surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten, yang mengatakan
bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian
hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik
jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik
bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaimana dituangkan dalam kitab
suci.
Sebagaimana teori etika yang
memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan
tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada
pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat
manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan
bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat
manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan
pendekatan rasional karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat
kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.
ETIKA ABAD KE-20
- Arti Kata “Baik” Menurut George Edward Moore
- Tatanan Nilai Max Scheller
- Etika Situasi Joseph Fletcher
- Pangdangan Penuh Kasih Iris Murdoch
- Pengelolaan Kelakuan Byrrhus Frederic Skinner
- Prinsip Tanggung Jawab Hans Jonas
- Kegagalan Etika Pencerahan Alasdair Maclntyre
TEORI ETIKA DAN PARADIGMA
HAKIKAT MANUSIA
- Tampaknya sampai saat ini telah muncul beragam paham atau teori etika, dimana masing-masing teori mempunyai pendukung dan penentang yang cukup berpengaruh.
- Munculnya beragam teori etika karena adanya perbedaan paradigma, pola pikir atau pemahaman tentang hakikat hidup sebagai manusia.
- Hampir semua teori etika yang ada didasarkan atas paradigma tidak utuh tentang hakikat manusia.
- Semua teori yang seolah-olah saling bertentangan tersebut sebenarnya tidaklah bertentangan.
- Teori-teori yang tampak bagikan potongan-potongan terpisah ini dapat dipadukan menjadi satu teori tunggal berdasarkan paradigm hakikat manusia secara utuh.
- Inti dari etika manusia utuh adalah keseimbangan pada :
- Kepentingan pribadi, kepentingan masyarakat dan kepentingan Tuhan.
- Keseimbangan moral materi (PQ dan IQ), modal sosial (EQ) dan modal spiritual (SQ).
- Kebahagiaan lahir (duniawi), kesejahteraan masyarakat dan kebahgiaan batin surgawi.
- Keseimbangan antara hak (individu) dengan kewajiban kepada masyarakat dan Tuhan.
TANTANGAN KE DEPAN ETIKA SEBAGAI
ILMU
Ilmu etika ke depan hendaknya
didasarkan atas paradigma manusia utuh, yaitu suatu pola pikir yang
mengutamakan integrasi dan keseimbangan pada :
- Pertumbuhan PQ, IQ, EQ dan SQ.
- Kepentingan individu, kepentingan masyarakat dan kepentingan Tuhan.
- Keseimbangan tujuan lahiriah (duniawi) dengan tujuan rohaniah (spiritual).
Hakikat utuh manusia adalah
keseimbangan yang bisa diringkas sebagai berikut :
- Keseimbangan antara hak (teori hak) dan kewajiban (teori deontologi).
- Keseimbangan tujuan duniawi (teori teologi) dan rohani (teori teonom).
- Kesiembangan antara kepentingan individu (teori egoisme) dan kepentingan masyarakat (teori utilitarianisme).
- Gabungan ketiga butir di atas akan menentukan karakter seseorang (teori keutamaan).
- Hidup adalah suatu proses evolusi kesadaran.
JURNAL
ETIKA BISNIS SEBAGAI STRATEGI BISNIS JANGKA PANJANG DALAM
ERA BISNIS GLOBAL DAN REVOLUSI TEKNOLOGI INFORMASI
(Tinjauan
Teori dan Aplikasi)
Oleh:
Gugyh
Susandy & Deden Ramdhan
(Dosen Tetap
STIESA)
Abstrak
Menjadi perusahaan yang
menjalankan bisnis secara berkelanjutan merupakan harapan perusahaan dewasa ini
mengingat tidak sedikit perusahaan yang harus mengakhiri bisnisnya akibat
kesalahan strategi. Dengan adanya gabungan komponen struktur industri dan
struktur pasar inilah telah membentuk struktur persaingan. Dalam dinamika
bisnis maka tidak dapat dihindari akan muncul persaingan. Pada akhirnya
persaingan tersebut yang mendorong peranan Etika dalam bisnis. Penelitian ini
bertujuan untuk mengupas lebih jauh dari sudut pandang teori dan aplikasi mengenai
Etika Bisnis sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang dalam Era Bisnis Global dan
Revolusi Teknologi Informasi.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
35
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
1.
Pendahuluan 1.1
Latar Belakang
Bisnis pada
dasarnya adalah mengelola sesuatu agar terus berjalan dengan baik. Wilayah
kerja bisnis adalah dalam lingkup masyarakat ekonomi. Bisnis sebagai bagian
dari entitas ekonomi memiliki fokus peranan dalam kegiatan produksi dan
menciptakan penawaran kepada pasar dimana masyarakat melakukan kegiatan
konsumsi. Bisnis adalah suatu aktivitas yang dimulai dari memotret kebutuhan
masyarakat (society), memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara-cara
tertentu agar mendapatkan keuntungan dari transaksi pemenuhan kebutuhan. Dengan
demikian, perusahaan bisnis merupakan entitas ekonomi utama yang digunakan
orang dalam masyarakat ekonomi modern untuk melaksanakan tugas memproduksi dan
mendistribusikan barang dan jasa.
Dalam bisnis
diperlukan manajemen. Dengan manajemen yang baik maka bisnis dapat berjalan
sesuai harapan. Manajemen memiliki peranan yang sentral dalam menunjang
berjalannya roda bisnis secara efektif dan efisien. Manajemen juga berperan
dalam proses pengambilan keputusan yang agar lebih akurat, cepat dan tepat.
Manajemen pada dasarnya adalah ilmu yang membahas pemanfaatan sumber daya
dengan cara yang terbaik dalam mencapai tujuan/sasaran. Manajemen juga
diartikan sebagai ilmu serta seni bekerja bersama atau melalui orang lain untuk
mencapai tujuan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki organisasi secara
optimal (efektif dan efisien).
36
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Dengan demikian, ilmu Manajemen
adalah ilmu yang memiliki peranan sentral yaitu bagaimana prinsip dan asas
ekonomi dapat diterapkan atau dibumikan dalam suatu entitas ekonomi termasuk
didalamnya perusahaan bisnis.
Ilmu ekonomi
pada dasarnya memiliki tujuan untuk menciptakan equilibrium (keseimbangan)
antara kegiatan produksi dan kegiatan konsumsi. Kegiatan produksi dalam entitas
organisasi bisnis akan menghasilkan suatu struktur industri, demikian halnya
juga kegiatan konsumsi akan menghasilkan struktur pasar. Dengan adanya gabungan
komponen struktur industri dan struktur pasar inilah yang membentuk struktur
persaingan. Dengan demikian dalam dinamika bisnis maka tidak dapat dihindari
akan muncul persaingan. Pada akhirnya persaingan tersebut yang mendorong
peranan Etika dalam bisnis.
Etika
sebagai suatu ilmu adalah ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan
standar moral masyarakat. Ilmu Etika juga mempelajari bagaimana standar moral
tersebut diaplikasikan dalam
kehidupan dengan menggunakan penalaran yang logis. Sedangkan Etika bisnis itu
sendiri merupakan aplikasi pemahaman tentang standar moral tentang baik dan
benar yang diterapkan oleh perusahaan bisnis. Ketika perusahaan bisnis telah
menetapkan tujuan bisnisnya sebagai tujuan jangka panjang maka perusahaan
bisnis tersebut harus berperilaku secara etis. Menjalankan bisnis secara etis
pada era industrialisasi global saat ini menjadi pilihan utama sebagai strategi
bisnis jangka panjang. Diyakini pula bahwa strategi bisnis yang secara etis
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
37
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
dapat menciptakan keunggulan
kompetitif bagi perusahaan yang pada akhirnya dapat menghantarkan perusahaan
menjadi pemenang dalam persaingan.
Perusahaan
bisnis paling modern yang paling signifikan adalah korporasi. Sekarang ini
organisasi korporasi mendominasi ekonomi. Organisasi korporasi memunculkan
problem-problem besar bagi siapapun yang berusaha menerapkan standar moral pada
aktivitas bisnis. Sebagian dari Organisasi korporasi masa kini merupakan
perusahaan multinasional. Karena beroperasi di sejumlah negara yang berbeda
korporasi multinasional menghadapi sejumlah permasalahan Etika Bisnis yang
layak mendapatkan perhatian. Disamping itu, Teknologi mempunyai dampak
revolusioner terhadap bisnis dan masyarakat. Teknologi yang berkembang di akhir
dekade abad ke-20 mentransformasi masyarakat dan bisnis dan menciptakan potensi
problem etika baru. Yang paling mencolok diantara perkembangan ini adalah
revolusi dalam bioteknologi dan apa yang sering disebut teknologi informasi
meliputi perkembangan komputer, internet, komunikasi nirkabel, digitalisasi dan
lainnya.
Berdasarkan
paparan diatas penulis tertarik melakukan peninjauan lebih jauh dari sudut
pandang teori dan aplikasi mengenai “Etika Bisnis sebagai Strategi Bisnis
Jangka Panjang dalam Era Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi”
38
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
1.2 Identifikasi Masalah
Dapat
di rumuskan masalah yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini:
1.
Bagaimana Etika, Etika Bisnis ,
Etika Masyarakat, Dan Etika Global ?
2.
Bagaimana Cara Pandang Organisasi
Cybernetic terhadap Etika Bisnis?
3.
Bagaimana Kerangka Konseptual
Etika Bisnis Dan Perusahaan Meliputi Struktur, Proses Dan Kinerja ?
4.
Bagaimana Dinamika Etika Bisnis
Sebagai Fungsi Waktu Dan Budaya Dalam Model Dan Kasus?
5.
Bagaimana Standar Penalaran Moral ?
6.
Bagaimana Etika Pengambilan
Keputusan Diwujudkan Dalam Model Integratif Untuk Praktik Bisnis?
7.
Bagaimana Kinerja Etika Bisnis
Diukur Dengan Kerangka Konseptual?
2.
Pembahasan
2.1
Etika, Etika Bisnis, Etika Masyarakat, dan Etika Global
2.1.1 Pengertian
Etika
Raymond
Baumhart (1968) melakukan penelitian klasik menanyai lebih dari 100 orang
bisnis, apakah arti Etika? Hasilnya adalah sebanyak 50% pebisnis mendefinisikan
etika sebagai “apa yang dikatakan perasaan saya kepada diri saya bahwa hal itu
benar,” sebanyak 25 % mendefinisikan dalam istilah religius “apa yang sesuai
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
39
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
dengan kepercayaan religius
saya,” sebanyak 18% mendefinisikan sebagai “apa yang sesuai dengan peraturan
yang mulia”. Namun demikian perasaan sebetulnya dasar yang tidak memadai untuk
penilaian Etika (Velasquez:2005).
Mengawali
pembahasan dalam bab ini, akan ditinjau terlebih dahulu mengenai definisi atau
pengertian Etika dari pendapat beberapa pakar sebagai berikut:
Pendapat Wiley (1995)
mengatakan : “Ethics is concerned with moral obligation,
responsibility and social justice.”
Pendapat Harris (1995) mengatakan
: “Ethics as ..that which is to do with code of conduct which
clarifies one’s duty toward other human beings, even beyond whai is required by
law.”
Pendapat Walton (1977) dan
Mauro (1987) mengatakan : “Ethics is A critical analysis of human acts
to determine their rightness or wrongness in terms of two major criteria :
truth and justice.”
Etika menurut dalam kamus webster’s
International Dictionary makna yang pertama adalah : “prinsip
tingkah laku yang mengatur individu atau kelompok”.
Sedangkan makna yang kedua :
Etika adalah “kajian moralitas”.
Etika menurut Velasquez
(2005) merupakan :
40
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
“ilmu yang mendalami standar
moral perorangan dan standar moral masyarakat.”
“penelaahan standar
moral-proses pemeriksaan standar moral orang atau masyarakat untuk menentukan
apakah standar tersebut masuk akal atau tidak untuk diterapkan dalam situasi
dan permasalahan konkret. Tujuan akhir standar moral adalah mengembangkan
bangunan standar moral yang kita rasa masuk akal untuk dianut-standar yang
telah kita pertimbangkan dan kita putuskan secara cermat adalah standar yang
benar untuk kita terima dan terapkan pada pilihan-pilihan yang mengisi hidup
kita.”
2.1.2 Pengertian Etika Bisnis
Setelah
sebelumnya telah dibahas pengertian Etika, maka selanjutnya kita bahas
pengertian dari Etika Bisnis dari pendapat pakar sebagai berikut :
Walton (1977) mendefiniskan Etika
Bisnis yaitu :
“Business ethics A range of criteria
whereby human actions are judge to include such things as societal
expectations; fair competition; the aesthetics of advertising and the use of
public relation; the meaning of social responsibilities; reconcling corporate
behaviour at home behaviour abroad; the extent of customer sovereignty; the
relevance of
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
41
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
corporate
size; the handling of communication, and the like.”
Velasquez (2005)
menyatakan bahwa :
“Etika bisnis merupakan studi
standar moral dan bagaimana standar itu diterapkan kedalam sistem dan
organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan
mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di
dalam organisasi. Studi ini tidak hanya mencakup analisa norma moral dan nilai
moral, namun juga berusaha
mengaplikasikan
kesimpulan-kesimpulan analisis tersebut ke beragam isntitusi, teknologi,
transaksi, aktivitas, dan usaha-usaha yang kita sebut bisnis.”
Preuss (2008)
mengatakan bahwa :
“Business ethics is described
as a part of a veritable explosion of concept that aim to explain what the
proper role of business in society should be”
BE is the branch of ethics that examines
ethical rules
and principles within
acommercial context (http://en.wikipedia.org/wiki/).
BE is the field of ethics that
examines moral contraversies related to the social responsibilities/of business
practice, in any economic system (www.merriamwebster.com/dictionary).
42
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
BE is the
study of business situations, activities, and decisions where issues of right
and wrong are addressed (Crane and Matten, 2003).
2.1.3 Sejarah Evolusi Etika Bisnis
Etika bisnis
telah mengalami perkembangan dari dulu sampai saat sekarang ini. Perkembangan
etika bisnis dikenal dengan istilah evolusi etika bisnis. Berikut ini pandangan
dari beberapa pakar mengenai hal ini.
De George (1987, hal
201) berpendapat bahwa :
“sejarah etika dalam bisnis
adalah sejarah yang panjang, seperti akan kembali pada sejarah bisnis
dimulai"
De George (1987, hal
203) selanjutnya mengatakan :
“tahun 1985 sebagai titik dalam
sejarah bisnis saat etika telah menjadi suatu disiplin akademis meskipun masih
dalam proses definisi"
Sebuah paper
dengan judul “A longitudinal and contextual analysis of media
representation of business ethics” ditulis oleh R. Barkemeyer, D. Holt,
F. Figge dan G. Napolitano yang dimuat dalam jurnal European
Business Review Vol. 22 No. 4 Tahun 2010 telah menyajikan sebuah tabel
The Business Ethics timeline.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
43
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Perkembangan
Iklim etika bisnis dibagi kedalam kurun 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan
2000-an. Begitu halnya juga dengan perkembangan dilema etika bisnis di bagi
kedalam kurun waktu yang sama. Dalam tabel tersebut ditunjukkan bagaimana
perubahan iklim etika bisnis dan dilema etika bisnis dari satu kurun waktu ke
kurun waktu yang lainnya. Iklim etika pada tahun 1960-an adalah kerusuhan
sosial, sentimen anti perang. karyawan memiliki hubungan yang berlawanan dengan
manajemen, pergeseran nilai dari loyalitas untuk sebuah perusahaan untuk setia
kepada cita-cita/idealisme, nilai-nilai yang sudah usang/tua dikesampingkan.
Dilema etika bisnis yang dihadapi pada tahun 1960-an adalah masalah lingkungan,
peningkatan ketegangan antara karyawan dengan majikan, dominasi isu-isu hak-hak
sipil, kejujuran, perubahan etos kerja, selain itu dilema etika bisnis adalah
masalah mengenai penggunaan narkoba/obat-obatan meningkat.
Iklim etika
bisnis pada tahun 1970-an adalah kontraktor utama industri pertahanan dan
lainnya terlibat skandal, ekonomi mengalami resesi, angka pengangguran
meningkat, terdapat perhatian yang tinggi terhadap lingkungan, Masyarakat
mendorong agar bisnis menjadi akuntabel atas etika bisnis. Dilema etika bisnis
yang dihadapi adalah militansi karyawan (karyawan versus mentalitas manajemen),
permukaan hak asasi manusia (kerja paksa, upah di bawah standar, praktek tidak
aman). Beberapa perusahaan memilih untuk menutup-nutupi bukan
menyelesaikan/menyikapi dilema yang ada dengan benar.
44
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Tabel 1. The Business Ethic Timeline
Pada kurun
waktu 1980-an iklim etika bisnis yang terjadi adalah kontrak sosial antara
pengusaha dan karyawan didefinisikan ulang, kontraktor bidang pertahanan
dituntut agar sesuai dengan aturan secara ketat, korporasi melakukan
restrukturisasi/penghematan, sikap tentang
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
45
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
kesetiaan kepada majikan yang
terkikis, penekanan tentang etika perawatan kesehatan. Dilema etika bisnis yang
dihadapi pada kurun 1980-an adalah suap dan praktek ilegal kontraktor, menjajakan
pengaruh, iklan yang menipu, penipuan keuangan (skandal tabungan dan pinjaman),
timbul masalah transparansi.
Pada kurun
waktu 1990-an iklim etika bisnis yang terjadi yaitu ekspansi global membawa
tantangan etika baru, terdapat keprihatinan utama tentang pekerja dibawah umur
(anak), fasilitasi, pembayaran (suap), dan masalah lingkungan. munculnya
internet tantangan bagi batasan-batasan budaya. The Global Sullivan Prinsip
diluncurkan pada tahun 1999. Dilema etika bisnis yang muncul pada tahun 1990-an
Praktek kerja yang tidak aman di negara dunia ketiga, peningkatan kewajiban
perusahaan untuk kerusakan terhadap individu manusia (perusahaan rokok, Dow
Kimia, dll), mismanajemen Keuangan dan penipuan.
Iklim etika
bisnis pada tahun 2000-an adalah pertumbuhan ekonomi belum pernah terjadi
sebelumnya diikuti oleh kegagalan aspek keuangan, isu-isu Etika menghancurkan
beberapa perusahaan high profile. Data pribadi yang dikumpulkan dan dijual
secara terbuka. Wabah
Hacker dan
pencurian data bisnis dan lembaga pemerintahan. Tindakan teror dan
agresi terjadi secara internasional, Global Compact PBB mengadopsi 10 Prinsip
Anti Korupsi pada tahun 2004, konvensi PBB perang melawan Korupsi diadopsi oleh
Majelis Umum PBB Oktober tahun 2003.
46
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Dilema etika
bisnis yang muncul pada kurun waktu 2000-an adalah kejahatan cyber. masalah
privasi data (data mining), salah urus Keuangan. korupsi Internasional,
hilangnya privasi - karyawan versus majikan, pencurian kekayaan intelektual,
Peran usaha dalam mempromosikan pengembangan berkelanjutan.
Montes-y-Gomez
et al (2001) menyajikan tabel yang memuat beberapa kejadian
pokok yang telah mempengaruhi lingkungan etika bisnis secara detail dari tahun
1984 – 2007 sebagai berikut :
Tabel 2.
Major ethical/environmental event 1984-2008.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
47
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
R.
Barkemeyer, D. Holt, F. Figge dan G.
Napolitano melakukan analisis longitudinal dan kontekstual etika bisnis
yang direpresentasikan oleh media koran. Sebanyak 62 koran internasional di 21
negara dari tahun 1990 s.d 2008 menjadi sampel penelitian bagi analisa
longitudinal etika bisnis. Hasilnya menunjukan sebagaimana gambar dibawah ini
Fokus analisa longitudinal ingin mengetahui sejauhmana kemungkinan topik etika
bisnis secara rata-rata muncul dalam koran setiap bulannya. Topik etika bisnis
nya diperluas dengan tema lain yang terkait karena beberapa literatur
menyarankan etika bisnis terkait dengan the three pillars sustainability
yaitu the triple bottom line of economic, environmental, and social
responsibility.
Rumus perhitungan hits per news paper issue adalah :
Jika angka
hit per issue misalnya sebesar 0,1 artinya terdapat kemungkinan 10% rata-rata 1
artikel tentang etika bisnis muncul koran dalam 1 bulan.
48
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Gambar 1. Longitudinal trends in coverage of businees ethics
and associates term.
Berdasarkan
nilai hit per np issue terlihat ada nilai yang signifikan dalam termin sustanaibility
development, bahkan pada tahun antara tahun 2002 dan 2003 mencapai level
0.7 artinya 70% kemungkinan rata-rata muncul 1 artikel tentang istilah sustainability
development atau dengan kata lain 70 koran dari 100 koran per bulan. Hal
ini berhubungan dengan penyelenggaraan KTT Bumi di Johanesburg pada tahun 2002.
Mengenai
istilah etika bisnis itu sendiri dari tahun 1995 sampai dengan 2002 tetap
konstan dibawah angka 0.06 artinya kurang dari 6 buah koran dari 100 koran
perbulan memuat artikel terkait etika bisnis. Pada tahun 1995 pernah mencapai
puncak hal ini terkait kontroversi The Bodyshop,
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
49
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Harrods dan suap di lingkungan
pemerintahan inggris. Pada tahun 2002 pernah mencapai puncak terkait dengan
Enron, WorldCom, skandal Adelphia dan cakupan dari undang-undang Sarbanes-Oxley
dan difokuskan terutama di AS.
Gambar 2.
Regional Coverages of business ethics
Berdasarkan
grafik diatas, secara keseluruhan tedapat cakupan yang tinggi di wilayah Afrika
Selatan, namum masih memunculkan bias karena data hanya selama 10 tahun. Di Inggris
pernah mencapai puncak pada tahun 1995 manakala Isu suap di Inggris cukup
berdampak pada cakupan media di Asia Tenggara khususnya Hongkong yang terlibat
skandal tetapi tidak terlalu berdampak bagi cakupan media di AS, Australia,
Kanada. Mendekati akhir tahun 2008, cakupan etika bisnis yang paling besar
yaitu berturut-turut di: AS,
50
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Afrika Selatan, Inggris,
Australia, Asia Tenggara, dan Kanada.
Gambar 3. Comparison business ethics and associated terms
Garis tren
perbandingan cakupan media tentang istilah Etika Bisnis dan CSR disajikan dalam
Gambar 3 diatas. Hasilnya menunjukan garis trens etika bisnis relatif konstan,
pada akhir 2008 di level 0.03. untuk garis tren CSR menunjukan tren
peningkatan, pada akhir 2008 berada pada level 0.13.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
51
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
2.1.4 Persepsi yang menyeluruh tentang isi dari
Etika Bisnis
Sebuah
jurnal dengan judul Toward a holistical perception of the content of
business ethics yang ditulis oleh Vojko Potocan dan Matjaz Mulej dimuat
dalam Kybernetes Vol. 38 No.3/4 2009, menyajikan bagan Kerangka Teoritis
Etika bagi Isi etika organisasi bisnis sebagai berikut:
Gambar 4. Ethics theory framework
for BE Content
Para Filsuf
pada hari ini biasa menggelompokkan etika kedalam 3 area umum yaitu: metaethics,
normative ethics, dan applied ethics. Secara lebih detailnya
dapat dilihat dalam tulisan Ulrich (1997), Kagan (1998), Wilson
(1998), Ferrel et al (2007). Para filsuf juga mengembangkan
52
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
sejumlah doktrin filosofis yang
menjelaskan bagaimana mengambil suatu pilihan yang terbaik bagi individu dan
masyarakat (Kohlberg, 1976; Shea, 1998; Singer, 1999; Jennings,
2005; Trevino and Nelson, 2006). Doktrin filosofi yang dimaksud
adalah altuirsm, divine command ethics, consequentialisme, Virtue
ethics, social contract theory, dan lainnya.
Prinsip-prinsip
normatif yang penting beberapa diantaranya adalah : personal benefit, social
benefit, principle of benevolence, principle of paternalism, principle
of harm, principle of honesty. (Ulrich, 1997; Velasquez, 2005; Potocan and
Mulej, 2007; Trevino and Nelson, 2006; etc.)
Modern
theory and practice discuss ethics and/or BE using (specific) bases of ethics,
especially concerning applied ethics, such as: ethics by cases (Shea, 1998;
Jennings, 2005), political virtues (Crick, 1982, 2002), situational ethics
(Ross, 1995; Simons and Usher, 2000), descriptive ethics (Singer, 1999; Shaw,
2007), and the analytic view of ethics (Bostock, 2000; Simons and Usher, 2000;
Bowie, 2002; etc.).
Selanjutnya
Vojko Potocan dan Matjaz Mulej juga menyajikan bagan faktor-faktor yang
mempengaruhi etika bisnis organisasi. Dijelaskan dalam bagan tersebut faktor
yang mempengaruhi ada 2 yaitu :
a.
Faktor Umum yang terdiri dari (Economic,
Industrial, Historical and Culture dan Organizational).
(Potocan, 2002, 2006; Potocan and Mulej, 2005, for details concerning each
general factor – but not in their synergy,
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
53
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
see
for example, Cooper and Argyris, 2000; Daft, 2002; Jennings, 2005; Stanwick and
Stanwick, 2008; etc.)
b.
Faktor Khusus meliputi (BE organization
stakeholders, Structural factor, content factor, dan VCEN organization).
(For details concerning each specific factor – but not in their
synergy, see for example, Cooper and Argyris, 2000; Daft, 2002; Jennings, 2005;
Stanwick and Stanwick, 2008; etc.)
Gambar 5. Factors that influence on organizational Business
Ethics
Faktor
khusus VCEN Organization artinya Value (nilai), Culture
(Budaya), Ethics (Etika) dan Norms (Norma) yang dimiliki individu
dan organisasi. Faktor khusus
54
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
struktural meliputi; formalization,
specialization, hierarchy of authority, centralization, profesionalism dan
rasio personnel dan lainnya. Faktor khusus content organizational
meliputi : Technology, skills, size, objective and strategy, dan
environment.
2.1.5 Etika
Masyarakat
Gail C.
Furman menulis sebuah makalah dengan judul “The ethic of
community” yang dimuat dalam Journal of Educational
Administration Vol. 42 No.2 Tahun 2004 dengan bertujuan untuk
mengusulkan konsep etika masyarakat untuk melengkapi dan memperluas frame etika
lainnya yang digunakan dalam pendidikan. Etika masyarakat melengkapi dan
memperluas bingkai dikembangkan oleh Starratt (1994) dan Shapiro
dan Stefkovich (2001) dalam fokus pada komunal dan bukan individu.
Mungkin
kerangka etika yang paling dikenal umum digunakan dalam pendidikan adalah
kerangka tripartit yang dikembangkan oleh Starratt (1994, 2003). Starratt
mengklaim bahwa tiga "etika" mendasari praktek etika: etika keadilan,
etika kritik, dan etika pelayanan. Furman mendefinisikan etika masyarakat
adalah :
“Etika komunitas didefinisikan
sebagai tanggung jawab moral untuk terlibat dalam proses komunal sebagai
pendidik mengejar tujuan moral dari pekerjaan mereka dan mengatasi tantangan
yang harus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari”
Selanjutnya disajikan bagan dibawah
ini:
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
55
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Gambar 6.
Ethical framework centered in the ethic of
community.
Etika
keadilan mensyaratkan bahwa kita mengatur diri kita dengan memperhatikan
keadilan. Artinya, kita memperlakukan satu sama lain menurut beberapa standar
keadilan yang seragam diterapkan ke semua kita hubungan (Starratt, 1994, hal
49). Dengan kata lain, keadilan atau perlakuan yang sama adalah
nilai inti yang mendasari etika keadilan: Ide dasar keadilan adalah bahwa
masyarakat harus menetapkan aturan yang adil bagi semua dan kemudian hidup oleh
aturan mereka (Noddings, 1999). Etika kritik diperlukan karena tidak ada
tatanan sosial yang netral. Tantangan etisnya adalah membuat pengaturan sosial
lebih responsif terhadap hak asasi manusia bagi setiap warga negara (Starratt,
1994,
56
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
hal 47).
Etika perawatan mutlak membutuhkan sikap menghargai martabat dan nilai
intrinsik setiap orang dan keinginan untuk melihat bahwa orang-orang menikmati
hidup (Starratt, 2003, hal 145). Lebih lanjut, etika perawatan berfokus
pada tuntutan hubungan, bukan dari kontrak atau sudut pandang legalistik,
tetapi dari sudut pandang menghargai dan cinta.
2.1.6 Etika Global
Sebuah paper
ditulis oleh Anthony Howard dengan judul A New Global Ethic
dimuat dalam Jurnal of Management Development Vol. 29 No. 5 Tahun
2010. Tujuan penulisan paper tersebut untuk menggali potensi bagi para
pemimpin bisnis untuk melakukan kebaikan dengan cara yang sepenuhnya
terintegrasi dengan tujuan organisasi dan tujuan pribadi mereka. Mengingat isu
utama menghadapi masyarakat, termasuk kerapuhan lingkungan, kerentanan keuangan
dan mengurangi pengaruh lembaga-lembaga tradisional, mengusulkan perlunya etika
global baru, dan menyarankan bahwa para pemimpin perusahaan global memiliki
kesempatan khusus untuk membuat perbedaan besar dalam mendorong etika.
Makalah
tersebut mengidentifikasi tiga unsur kunci yang sangat penting untuk
kepemimpinan yang efektif:
a. untuk
menguasai seni menjadi manusia,
b.
untuk menguasai seni menjalankan
sebuah perusahaan yang sukses,
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
57
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
c. untuk menjadi pelayan kepada masyarakat
dengan mengembangkan etika global yang baru dalam lingkup pengaruh mereka.
Kenyataan
menunjukkan bahwa dunia kita saat ini dan bisnis didalamnya mengalami
ketidakpastian contoh yang terkini mengenai krisis keuangan global, Ferguson
(2008) mengatakan ada 3 sebab kerentanan dunia ini :
(1) ketidakpastian
dan tidak dapat diprediksinya masa depan;
(2) irasionalitas
perilaku manusia dan kekeliruan pemikiran manusia, dan
(3) dampak
kekuatan-kekuatan evolusi sosial pada perekonomian, yang mengarah pada
kepunahan
organisasi sebesar 10 % per tahun.
Antony Howard (2010) mengatakan :
“Kita perlu cara baru berpikir
dan bertindak pada tingkat global - sebuah etika global yang baru untuk abad
21.
Meningkatnya kompleksitas,
ambiguitas dan interkoneksi di kehidupan abad 21 berarti bahwa kita harus
berpikir dan bertindak secara global, sedangkan hidup lokal. Tidak ada lagi
cukup untuk hanya bertindak lokal dan berpikir global. Untuk memeluk suatu
etika global yang baru memerlukan adopsi terhadap suatu perspektif/pandangan
baru untuk dunia kita, lembaga kita, hubungan kita dan diri kita sendiri, dalam
arus nilai-nilai abadi manusia, mengenali tanggung jawab kita
58
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
untuk planet ini, pada zaman
ini, dan generasi yang datang setelah kita. Perspektif ini mengakui kita tidak
dalam isolasi, baik sebagai manusia, negara atau institusi, dan tidak dapat
mengabaikan dampak dari tindakan kita pada orang lain.”
Sebagai
respon terhadap etika yang berlaku dari keserakahan dan kepentingan pribadi,
yang telah gagal untuk memberikan dunia yang kita inginkan, sebuah etika global
baru akan mencakup sejumlah elemen. (Anthony Howard,2010)
1. Sustainable
(Keberlanjutan).
"Bisnis adalah masalah
pelayanan manusia" kata Merril J. Fernando, pendiri Dilmah
Tea. Diakui pula adanya kedalaman hubungan manusia antara bisnis dan
dunia (Fernando, 2009).
Etika keberlanjutan meliputi:
a.
Keberlanjutan Bakat, bergerak di
luar daya tarik, retensi dan pengembangan bakat untuk menciptakan lingkungan
dan praktek-praktek yang menyegarkan dan meningkatkan orang untuk hidup panjang
dan sehat.
b.
Keberlanjutan Organisasi, mengakui
bahwa korporasi merupakan bagian dari sistem sosial yang luas, dan bahwa
memiliki sebuah lembaga baik yang sukses dalam jangka panjang tergantung pada
keuangan perusahaan yang memiliki dampak positif pada masyarakat/sistem yang
lebih luas.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
59
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
c.
Keberlanjutan Sosial, mengakui bahwa
setiap orang adalah bagian dari jaringan sosial, tidak peduli seberapa berbeda,
dan bahwa lembaga perlu untuk berkontribusi pada pelestarian daripada pemisahan
jaringan ini pada tingkat lokal, nasional dan global. Kelompok usaha dengan
etika global yang baru menilai dampak keputusan dan tindakan mereka di semua
set hubungan manusia, menjadi sangat hati-hati untuk memastikan apa yang mereka
lakukan memberikan kontribusi pada kesejahteraan masyarakat yang lebih besar.
d.
Keberlanjutan Global, yang mengakui
bahwa kita memiliki tapak yang memanjang di lingkungan, komunitas
bangsa-bangsa, dan mencapai ke bawah berturut-turut melalui generasi.
2. Nilai-nilai
Manusia yang tak lekang oleh waktu (Timeless Human Values)
Ada
seperangkat nilai-nilai universal diterima sebagai nilai etis yang
berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk keadilan, kejujuran,
kepercayaan, menghormati hak hidup manusia, cinta, kebebasan, toleransi (Kidder,
1995). Keberhasilan bisnis jangka panjang tergantung pada penerapan
nilai-nilai ini (Senge, 2008, hal xiii).
Bisnis dan
orang yang beroperasi dengan etika global baru mengambil waktu untuk mengajukan
pertanyaan seperti:
60
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
(1)
Apakah kebenaran dari masalah ini?
Apa fakta? Apakah ini telah diungkapkan atau dibahas?
(2)
Apa yang mesti dihargai / dinikmati
/ dirayakan dalam situasi ini atau dengan orang ini?
(3)
Apakah hal yang benar untuk
dilakukan, cara yang tepat untuk bertindak?
(4) Apakah
tindakan ini adil untuk semua yang terlibat?
(5)
Apakah kita bersikap jujur di sini,
atau adalah sesuatu yang telah ditutup-tutupi?
(6)
Apakah kita mengajukan semua
pertanyaan, atau ada pertanyaan tertentu yang sedang dihindari?
(7)
Apa yang kita lakukan untuk
mendorong dan melepaskan potensi manusia dan membantu orang menjalani penuh
kehidupan manusia?
(8)
Apakah kita melakukan sesuatu
(seperti upah rendah atau jam panjang, misalnya) yang akan mengurangi dari
orang-orang hidup yang mampu hidup sepenuhnya manusia?
(9)
Apa yang kita lakukan yang
memperlihatkan kepedulian yang tulus dan kasih sayang untuk orang yang kita
sentuh melalui organisasi kita ?
(10) Apakah
kita memperlakukan orang sebagai individu dengan harapan dan impian, bakat dan
keterampilan, atau sebagai unit produksi ekonomi?
(11) Apakah
kita melakukan apa saja yang menghalangi orang memiliki kebebasan, termasuk
kebebasan pilihan, dan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat tanpa rasa
takut?
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
61
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
(12) Apakah
kita benar-benar toleran terhadap pandangan orang lain, walau ketika itu
berbeda dengan kita?
3. Keseluruhan sistem berfikir.
Sebuah etika
global baru mengakui bahwa individu tidak ada dalam isolasi, juga tidak ada
perusahaan dalam isolasi. Mereka ada sebagai bagian dari suatu sistem yang
lebih besar dan partisipasi mereka dalam sistem ini harus
menginformasikan pemikiran,
walaupun memiliki konsekuensi negatif jangka pendek.
2.2
Business Cybernetics dan Etika Bisnis
In Kybernetes, Vol. 34 Nos. 9/10,
pp. 1496-516
we published “Business
cybernetics – aprovocative suggestion” (Potocan et al., 2005).
Potocan defined that
BC is specializing in
organizations and individuals as so-called BSs emphasizing the so-called
business viewpoints rather than the natural and/or technical/technological
viewpoints of consideration of features, events and processes comprised of real
life.
Selanjutnya dalam paper lainnya
Potocan dan Mulej
(2009) menggambarkan suatu konsep
cara padang organisasi
62
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Bisnis Cybernetic terhadap isi dari
Etika Bisnis sebagai berikut :
Etika bisnis
menjadi aspek yang dilibatkan dalam proses Input, Transformasi dan Output
perusahaan Bisnis Cybernetics.
Selanjutnya, perlu diketahui
juga bahwa prinsip-prinsip etika yang dijadikan sebagai dasar analysis bagi
penetapan strategi manajemen.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
63
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
2.3
Kerangka Konseptual Etika Bisnis dan Perusahaan Meliputi Struktur, Proses Dan
Kinerja
Pada
pembahasan di sub-bab ini akan dipelajari konsep teoritis etika bisnis dan
perusahaan. Goran Svensson dan Greg Wood (2011) menulis suatu
paper yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menjelaskan suatu kerangka kerja
konseptual perusahaan dan etika bisnis di seluruh organisasi dalam hal struktur
etika, proses etis dan kinerja etika.
Gambar 7. A conceptual frame work of corporate and business
ethics across organization: structure, processes and performance.
64
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Berdasarkan bagan diatas dapat kita lihat bahwa
Struktur Etika terdiri dari :
a. Kode etik
Sebuah sub-bidang penting
struktur etika dalam kerangka konseptual etika organisasi perusahaan dan bisnis
di seluruh organisasi adalah kode etik. Sejak awal 1980-an, sejumlah studi di
bidang kode etik perusahaan telah telah dilakukan di Amerika Serikat (misalnya
Cressey dan Moore, 1983; Chonko et al, 2003.), di Inggris
(misalnya Le Jeune dan Webley, 1998), di Kanada (Lefebvre dan
Singh, 1992; Schwartz, 2002; Singh, 2006) di Swedia (Svensson
et al, 2004), di Australia (Kaye, 1992;. Farrell dan Cobbin,
1996; Wood, 2000; Wood dan Callaghan,
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
65
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
2003). Studi kode etik telah
juga dilakukan pada perusahaan multinasional terbesar yang beroperasi di
berbagai yurisdiksi di dunia (Bethoux et al, 2007;. Singh et
al, 2005;. Wood et al, 2004.).
Studi telah menemukan bahwa
memiliki kode etik memberi dampak positif terhadap etika perilaku dan perilaku
organisasi (Adams et al, 2001;. Schwartz, 2001; Wotruba et al,
2001). Stajkovic dan Luthans (1997) melihat kode etik
sebagai salah satu parameter penting untuk mempengaruhi standar etika
organisasi dan individu. Berenbeim (2000) melihat kode etik sebagai
memiliki peran penting membuat organisasi menjadi lebih etis.
b. Audit Etika
Sub-wilayah lain struktur etika
dalam kerangka konseptual etika organisasi perusahaan dan bisnis adalah
melakukan audit etika. Sejumlah penulis telah menyarankan kebutuhan untuk
menggabungkan audit etika ke dalam proses suatu organisasi (Crotts et al,
2005;. Laczniak dan Murphy, 1991; Murphy, 1988). Garcia-Marza
(2005) memandang audit etika sebagai bagian tidak terpisahkan dari
proses pengembangan kepercayaan.
c. Etika
ombudsman
Organisasi yang ditunjuk dalam
posisi ini, agar individu dalam organisasi yang memiliki perhatian yang tulus
66
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
dapat merasa bebas untuk
menyuarakan keprihatinan ini ke arbiter mandiri (Crotts et al, 2005;. Laczniak
dan Murphy, 1991; Murphy, 1988).
d. Komite Etika
Pengembangan Komite etika
merupakan struktur penting direkomendasikan oleh sejumlah penulis (Pusat Etika
Bisnis, 1986; Wood, 2002). Komite Etika diyakini dapat mendukung pengembangan,
pengelolaan dan pemantauan terhadap praktek bisnis yang etis.
e. Komite
pelatihan etika
f. Dukungan
bagi Whistle-blowers
Selanjutnya dari bagan diatas dapat diketahui bahwa proses etika
terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut:
a. Penilaian
kinerja etika;
b. Pendidikan
staf;
c. Membantu
dalam perencanaan strategis;
d. Konsekuensi
pelanggaran;
e. Komunikasi
kode untuk pekerja organisasi;
f. Penyebaran
kode untuk staf baru;
g. Penyebaran
kode untuk pelanggan;
h. Penyebaran
kode kepada pemasok;
i.
Komunikasi kode kepada para pemangku
kepentingan lainnya;
j.
Revisi kode
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
67
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Sementara elemen dari kinerja etika
adalah :
a. Memecahkan
dilema etika;
b. Membantu
garis bawah,
c. Efektivitas
kode
.
Dinamika
Etika Bisnis terhadap Fungsi Waktu Dan Budaya Dalam Model
Goran
svensson dan Greg wood (2003) menulis makalah yang
membahas etika bisnis haruslah dinamis mengingat terdapat dua parameter waktu
dan budaya. Etika bisnis bisa diterima atau tidak karena perbedaan waktu dan
budaya. Oleh karena itu hal ini harus menjadi perhatian bagi pelaku bisnis.
Dalam paper tersebut, dijelaskan hubungan antara budaya dan waktu,
seperti diilustrasikan dibawah ini:
Hubungan etika bisnis dengan
budaya diilustrasikan dalam bagan dibawah ini:
68
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Hubungan
etika bisnis dengan waktu, diilustrasikan dalam bagan dibawah ini:
Dinamika etika bisnis terhadap
waktu dan budaya disajikan dalam model umum:
Etika bisnis
dalam penerapannya akan menghadapi gap dengan pandangan pihak lain, seperti di
ilustrasikan dalam model dibawah ini :
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
69
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Skenario yang akan terjadi pada posisi adanya gap etika
bisnis dengan pandangan pihak lain yaitu :
Berdasarkan konstruksi model-model yang sebelumnya maka
tercipta sebuah model Dinamika Etika
70
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
Bisnis terhadap waktu dan
budaya di gambarkan sebagaimana berikut:
2.4
Standar Penalaran Moral
Penelaran
moral mengacu pada proses penalaran di mana perilaku, institusi, atau kebijakan
dinilai sesuai atau melanggar standar moral. Penalaran moran selalu melibatkan
dua komponen mendasar, diantaranya :
a.
Pemahaman tentang yang dituntut,
dilarang, dinilai atau disalahkanoleh standar moral yang masuk akal.
b.
Bukti atau informasi yang
menunjukkan bahwa orang, kebijakan, institusi, atau perilaku tertentu mempunyai
ciri-ciri standar moral yang menuntut, melarang menilai, atau menyalahkan.
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
71
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Untuk
menyingkap standar moral yang implisit yang merupakan dasar penilaian moral
seseorang, orang harus melacak kembali penalaran moralnya ke dasar-dasarnya. Hal
ini dilakukan dengan menanyakan beberapa hal :
a.
Standar informasi faktual apa yang
diterima seseorang sebagai bukti penilaian moral ini ?
b.
Standar moral apakah yang diperlukan
untuk menghubungkan informasi faktual ini (secara logis) dengan penilaian moral
?
Dalam
menganalisis penalaran moral ada beragam kriteria yang dilakukan para ahli
etika untuk mengevaluasi kelayakan penalaran moral, antara lain :
1.
Yang paling utama, penalaran moral
harus logis. Analisis penalaran moral menuntut logika argumen yang digunakan
untuk menyusun penilaian moral telah diteliti secara ketat, asumsi moral dan
faktual yang tidak dikatakan telah dibuat secara eksplisit, dan baik asumsi
maupun premis-premisnya diperlihatkan dan terbuka terhadap kritik.
2.
Bukti faktual yang dikutip untuk
mendukung penilaian harus akurat, relevan, dan lengkap.
3.
Standar moral yang melibatkan
penalaran moral seseorang harus konsisten. Standar-standar itu harus konsisten
satu sama laindan dengan standar dan keyakinan yang lainyang diyakiniseseorang.
Inkonsistensi antarstandar moral seseorang dapat disingkap dan
72
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
dikoreksi
dengan mencermati situasi di mana standar moral tersebut menghadapi hal-hal
yang bertentangan.
2.5
Etika Pengambilan Keputusan Diwujudkan Dalam Model Integratif Untuk Praktik
Bisnis
J.R.C.
Pimentel , J.R. Kuntz dan Detelin S. Elenkov menulis
paper dengan judul “Ethical decision making an Integrative Model for
Business practice” yang dimuat dalam Jurnal European Business Review Vol.
22 No.4 Tahun 2010, menyajikan suatu model integratif seperti dibawah
ini :
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
73
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
74 Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
2.6
Kinerja Etika
Bisnis Diukur Dengan Kerangka Konseptual
Goran
svensson dan Greg Wood (2004) menulis sebuah paper
dengan judul “Proactive versus reactive business ethics performance:
a conceptual frame work of profile analysis and case ilustration” dimuat
dalam Jurnal Corporate Governance Vol,4 No.2 Tahun 2004. Menghasilkan
model dan hasil analisa kasus sebagai mana dibawah ini :
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
75
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
76 Dimensia Volume 12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78
DAFTAR
PUSTAKA
Barkemeyer.
R , Holt. D, Figge. F, and Napolitano. G, “A Longitudinal
And Contextual Analysis Of Media Representation Of Business Ethics”, Journal
European Business Review, Vol. 22 No. 4 pp.377-396 Tahun 2010
Furman.
C. Gail “The Ethics of Community” Journal of Educational
Administration, Vol. 42 No. 2 pp.215-235 Tahun 2004
Howard.
Anthony “Perspective On Practice: A New Global Ethics” Journal
of Management Development, Vol. 29 No. 5 pp. 506-517 Tahun 2010
Mauro. Nicholas,
Natale. M. Samuel and Libertella. F. Anthony, “personal
values, business ethics and strategic development”, Journal Cross Cultural
Management, Vol. 6 No. 2 pp.22-28 Tahun 1999
Pimentel,
Kuntz and Elenkov, “Ethical decision-making an integrative
model for business practice”, Journal European Review, Vol. 22
No. 4 pp.359-375 Tahun 2010
Potocan.
Vojko and Mulej. Matlaz, “Toward A Holistical Perception
Of The Content Of Business Ethics”, Journal Kybernetes, Vol. 38 No.3/4
pp.581-595 Tahun 2009
Etika Sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang Dalam Era
|
77
|
Bisnis Global dan Revolusi Teknologi Informasi
Prasad.
Ajnesh “Toward A System Of Global Ethics In International
Business: A Rawlsian Manifesto”, Journal Management Decision, Vol. 46
No. 8 pp.1166-1174 Tahun 2008
Schwartz. Mark “The
business ethics of Management Theory”, Journal of Management History,
Vol. 13 No.1 pp.43-54 Tahun 2007
Svensson G, and Wood.
G, “Proactive versus reactive business ethics
performance: a conceptual framework of profile analysis and case
illustrations”, Journal Corporate Governance, Vol. 4 No.2 pp.
18-33 Tahun 2004
Velasquez
G. Manuel “Etika Bisnis” Edisi 5 Penerbit ANDI Yogyakarta Tahun
2005.
78
Dimensia Volume
12 Nomor 1, Maret 2015 : 35-78



















