Judul Film : SOKOLA RIMBA
Sutradara :
Riri Riza
Produser :
Mira Lesmana
Pemeran :
Prisia Nasution
Rukman Rosadi
Nadhira Suryadi
Nyungsang Bungo
SOKOLA RIMBA
Sokola Rimba
menceritakan tentang perjuangan Butet Manurung (diperankan oleh Prisia
Nasution). Selama menjadi pengajar bagi masyarakat suku anak dalam yang dikenal
dengan sebutan Orang Rimba. Orang-orang Rimba adalah
sebutan bagi suku yang mendiami Taman Nasional Bukit DuaBelas (TNBD) yang ada
di Jambi. Mereka hidup berkelompok dan berpindah2. Sayangnya kehidupan mereka
banyak mengalami gangguan, terutama karena kerusakan hutan, penebangan liar,
perubahan lahan hutan jadi lahan kelapa sawit, dll.
Pada saat Butet hendak pergi mengajar lalu
mendadak terkena demam malaria di tengah hutan dan diselamatkan oleh seorang
anak Orang Rimba. Anak tersebut
bernama Nyungsang Bungo, berasal dari Hilir Sungai Makekal yang jauh dari tempat
di mana Butet mengajar yakni di hulu sungai. Bungo ini ternyata diam-diam
sering mengintip kegiatan Butet ketika mengajar baca tulis bersama anak-anak
Orang Rimba di hulu sungai. Nyungsang Bungo ini sangat
ingin sekali belajar membaca dan menjadi
pintar agar ia dan keluarganya sesama orang rimba tidak lagi dibodoh-bodohi oleh
orang luar yang ingin menjarah hutan adat mereka.
Nyungsang Bungo yang awalnya dipergoki oleh anak
rimba salah satu murid Butet malu-malu dan takut untuk ikut belajar ternyata
cukup cerdas dan ulet dalam belajar. Hal ini membuat Butet ingin memperluas
wilayah kerjanya ke arah hilir, ke perkumpulan orang rimba lainnya yakni suku
di mana Bungo berasal.
Mulanya setelah
agak lama menunggu hingga menginap satu malam di pinggir pemukiman kelompok Nyungsang Bungo, Butet akhirnya diizinkan oleh
Tumenggung selaku kepala adat untuk mengajar di sana. Namun, hal itu tidak
berlangsung lama, kepercayaan ataupun tradisi adat Suku Anak Dalam yang anti
akan hal-hal asing dari luar mempercayai bahwa pensil, buku, dan kegiatan Butet
itu akan membawa malapetaka bagi mereka. Puncaknya ketika Tumenggung meninggal
dan Bungo dijemput paksa oleh anggota kelompoknya yang meyakini meningggalnya
Tumenggung akibat kedatangan dan aktivitas Butet. Membuat Bungo harus berhenti
belajar dan kembali ke kelompoknya untuk melakukan adat mereka yang berpindah tempat
ketika ada salah satu anggota yang meninggal.
Di akhir cerita
ketika Butet kembali bertemu dengan Nyungsang Bungo dan kelompoknya adegan
mengharukan kembali ditayangkan ketika Butet dan rekan sesama pengajar melihat
Bungo menjadi juru bicara kelompoknya ketika ada orang luar (Masyarakat biasa)
yang hendak meminta izin mengeksploitasi hutan adat mereka. Bungo yang saat itu
sudah bisa membaca membuat bingung orang-orang yang hendak meminta persetujuan
Ketua Adat karena Bungo bisa membaca dan mengerti akan isi surat perjanjian
yang mereka tawarkan. Di sana Bungo menolak poin-poin di surat perjanjian yang
dianggap tidak sesuai dengan aturan adat mereka.
Dari film ini membuat kita jadi lebih sadar dan bersyukur. Karena apa? karena ternyata di luar sana masih ada daerah yang terjajah oleh bangsa nya sendiri. Dan ada seorang guru yang dengan hati tulus berusaha keras mengajar mereka, dengan melewati berbagai rintangan yang cukup sulit. Film ini mengajarkan kepada kita untuk bisa menghargai ilmu pengetahuan yang telah kita dapatkan dan lebih rajin lagi dalam belajar, karena di luar sana masih banyak yang tidak mendapatkan ilmu pengetahuan seperti kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.