Jumat, 16 Januari 2015

SOKOLA RIMBA

Judul Film : SOKOLA RIMBA



Sutradara    : Riri Riza
Produser     : Mira Lesmana
Pemeran      : Prisia Nasution
                     Rukman Rosadi
                     Nadhira Suryadi
                     Nyungsang Bungo
SOKOLA RIMBA
Sokola Rimba menceritakan tentang perjuangan Butet Manurung (diperankan oleh Prisia Nasution). Selama menjadi pengajar bagi masyarakat suku anak dalam yang dikenal dengan sebutan Orang Rimba. Orang-orang Rimba adalah sebutan bagi suku yang mendiami Taman Nasional Bukit DuaBelas (TNBD) yang ada di Jambi. Mereka hidup berkelompok dan berpindah2. Sayangnya kehidupan mereka banyak mengalami gangguan, terutama karena kerusakan hutan, penebangan liar, perubahan lahan hutan jadi lahan kelapa sawit, dll.
Pada saat Butet hendak pergi mengajar lalu mendadak terkena demam malaria di tengah hutan dan diselamatkan oleh seorang anak Orang Rimba. Anak tersebut bernama Nyungsang Bungo, berasal dari Hilir Sungai Makekal yang jauh dari tempat di mana Butet mengajar yakni di hulu sungai. Bungo ini ternyata diam-diam sering mengintip kegiatan Butet ketika mengajar baca tulis bersama anak-anak Orang Rimba di hulu sungai. Nyungsang Bungo ini sangat ingin sekali belajar membaca dan menjadi pintar agar ia dan keluarganya sesama orang rimba tidak lagi dibodoh-bodohi oleh orang luar yang ingin menjarah hutan adat mereka.
Nyungsang Bungo yang awalnya dipergoki oleh anak rimba salah satu murid Butet malu-malu dan takut untuk ikut belajar ternyata cukup cerdas dan ulet dalam belajar. Hal ini membuat Butet ingin memperluas wilayah kerjanya ke arah hilir, ke perkumpulan orang rimba lainnya yakni suku di mana Bungo berasal.
Mulanya setelah agak lama menunggu hingga menginap satu malam di pinggir pemukiman kelompok Nyungsang Bungo, Butet akhirnya diizinkan oleh Tumenggung selaku kepala adat untuk mengajar di sana. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, kepercayaan ataupun tradisi adat Suku Anak Dalam yang anti akan hal-hal asing dari luar mempercayai bahwa pensil, buku, dan kegiatan Butet itu akan membawa malapetaka bagi mereka. Puncaknya ketika Tumenggung meninggal dan Bungo dijemput paksa oleh anggota kelompoknya yang meyakini meningggalnya Tumenggung akibat kedatangan dan aktivitas Butet. Membuat Bungo harus berhenti belajar dan kembali ke kelompoknya untuk melakukan adat mereka yang berpindah tempat ketika ada salah satu anggota yang meninggal.
Di akhir cerita ketika Butet kembali bertemu dengan Nyungsang Bungo dan kelompoknya adegan mengharukan kembali ditayangkan ketika Butet dan rekan sesama pengajar melihat Bungo menjadi juru bicara kelompoknya ketika ada orang luar (Masyarakat biasa) yang hendak meminta izin mengeksploitasi hutan adat mereka. Bungo yang saat itu sudah bisa membaca membuat bingung orang-orang yang hendak meminta persetujuan Ketua Adat karena Bungo bisa membaca dan mengerti akan isi surat perjanjian yang mereka tawarkan. Di sana Bungo menolak poin-poin di surat perjanjian yang dianggap tidak sesuai dengan aturan adat mereka.

Dari film ini membuat kita jadi lebih sadar dan bersyukur. Karena apa? karena ternyata di luar sana masih ada daerah yang terjajah oleh bangsa nya sendiri. Dan ada seorang guru yang dengan hati tulus berusaha keras mengajar mereka, dengan melewati berbagai rintangan yang cukup sulit. Film ini mengajarkan kepada kita untuk bisa menghargai ilmu pengetahuan yang telah kita dapatkan dan lebih rajin lagi dalam belajar, karena di luar sana masih banyak yang tidak mendapatkan ilmu pengetahuan seperti kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.